Berita

Peningkatan Kapasitas KIA menjadi Kinerja Utama Dinkes

Rabu Pon, 16 Agustus 2017 08:41 WIB 197

foto
Para peserta “Rapat Koordinasi Peningkatan Kapisitas KIA di Kabupaten Bantul” saat mendengarkan pemaparan dr Rr Anugrah Wiendyasari., M.Sc Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kabupaten Bantul di Aula Medika pada Rabu, 9 Agustus 2017. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes- Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan gizi buruk merupakan 3 dari 5 indikator kinerja utama yang menjadi prioritas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul. Dari capaian indikator Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adanya fluktuatif kejadian kasus luar biasa kematian dari tahun ke tahun. 

“CapaianAKI, AKB serta gizi buruk  sejak tahun 2011 sampai dengan 2015 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Namun pada tahun 2016 mengalami sedikit peningkatan, sehingga hal ini diperlukan telaah terhadap masalah yang mendasar untuk menyusun menjadi perubahan program KIA guna meningkatkan capaian indicator kinerja di Kabupaten Bantul,” terang dr Rr Anugran Wiendyasari M.Sc Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Jumat (11/8). Ia mengungkapkan dalam 2016 AKI di bantul sebesar 97,6 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 7,82 per 1000 kelaihran hidup.

Sampai saat ini Dinkes kabupaten Bantul telah melakukan berbagai macam upaya baik yang melibatkan pemerintah, masyarakat, sector swasta maupun mendorong dan mendukung Puskesmas menciptakan program inovasi bidang KIA dan Gizi. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah dengan menyelenggarakan Kegiatan “Rapat Koordinasi Peningkatan Kapisitas KIA di Kabupaten Bantul”, Rabu lalu (9/8). Acara yang diselenggarakan di Aula Medika Dinke kabupaten Bantul ini mengundang seluruh Bidan coordinator Kabupaten Bantul baik dari Puskesmas maupun Rumah Sakit yang ada di Kabupaten Bantul. 

Baca: Bidan Desa Harus menjadi Agen Kesehatan Mewujudkan Bantul Sehat


“Sebagai salah satu tenaga kesehatan strategis memiliki tugas dan fungsi memberikan pelayanan kebidanan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak khususnya kesehatan reproduksi perempuan dan tumbuh kembang bayi dan balita,” ujar Bambang Agus Subekti. SKM, MPH Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat. 


Untuk meningkatkan kapasitas kompetensi bidan Dinkes mengundang dr Zidni Setyaningrum, SpPD guna membantu menjelaskan Penyakit Tiroid pada kehamilan. 


“Penyakit tiroid pada kehamilan adalah masalah yang sering menjadi penyebab masalah kesehatan pada ibu hamil,” terang dr Zidni. Jika gangguan disfungsi tiroid seperti hipotiroid ini dialami oleh Ibu hamil akan menyebabkan preeklamsia, malformasi janin, kelahiran premature, BLBR hingga penghambatan pertumbuhan fisik maupun mental anak. 


“Penyebab hipertriodisme pada kehamilanan antara lain adalah penyakit grave’s, sindrom plummer, dan triotoksikosis gestasional selintas (TGS),” jelas dr Zidni. Jika dalam tugas bidan menemukan Ibu yang beresiko melahirkan bayi hipertiroid untuk dilakukan SHK (Skrining Hipotiroid Kongenital) pada bayi BLBR agar dapat dilakukan deteksi dini. Dinkes/YA

Baca Juga: Dinkes Bantul gelar Deklarasi Komitmen Pekan ASI Sedunia 2017