Berita

Dinkes Minta Bidan Desa untuk Pantau Pola Asuh Anak secara Psikologi

Rabu Legi, 22 November 2017 08:19 WIB 88

foto
Spy Mandrasari, S.Psi, M.Psi Psikolog RS Panembahan Senopati, bambang Agus Subekti, SKM.MPH Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan dr Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesga & Gizi saat mengisi acara Monev Bidan Desa pada Selasa, 10 November 2017. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Sebagai peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Seksi Kesehatan Keluarga & Gizi (Kesga & Gizi) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menyelenggarakan “Monitoring dan Evaluasi Bidan Desa”. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Bidan Desa se Kabupaten Bantul ini diselenggarakan di Hall Husada Dinkes Kabupaten Bantul, Selasa lalu (10/11).

“Kementrian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan Permenkes No 43 Tahun 2016 yaitu peraturan berkaitan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan, dimana dari 12 Indikator SPM, 4 diantaranya berkaitan dengan KIA,” ujar Bambang Agus Subekti, SKM. M.PH Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat saat membuka kegiatan Monev, Selasa (10/11). Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen Dinkes dalam memenuhi SPM dengan peningkatan program KIA dan review kembali Tupoksi Bidan Desa.

dr Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesga & Gizi mengutarakan bahwa Tugas Bidan Desa tak hanya memperhatikan kesehatan jasmani Ibu dan Anak namun juga kesehatan mental. Oleh karena itu dalam kegiatan ini Seksi Kesga & Gizi tak hanya merivew Tupoksi Bidan Desa juga memberikan wawasan mengenai Pola Asuh Anak usia 0-2 tahun dengan mengundang Psikolog dari RS Panembahan Senopati Spy Mandrasari, S.Psi, M.Psi.

 “Tentunya tujuan pemberian materi ini adalah mewujudkan masyarakat yang berkualitas, pola asuh harus diperhatikan untuk mewujudkan generasi yang sehat, kuat dan hebat,” ujar dr Anugrah.

Spy Mandrasari, S.Psi, M.Psi mengungkapkan Pola Asuh anak akan mempengaruhi kepribadian anak.

“Prilaku remaja dapat dilihat dari pola asuh seperti apa yang diterapkan orang tuanya,” kata Spy. Mengatakan Bidan Desa sebagai orang yang bertanggungjawab wilayah desa bidang kesehatan ibu dan anak harus mampu memahamkan pada Ibu tentang penerapan pola asuh yang baik, tidak ekstrem maupun lunak.

Ia menjabarkan dalam bahasa psikologi menyebut pola asuh ekstrem keras sebagai authorian (otoritarian). Pola asuh ini, ia menjelaskan membentuk anak seideal mungkin dengan control ketat dari orang tua. Ia mengingatkan, biasanya pola asuh otoritarian membuat anak bereaksi kurang percaya diri hingga mencari kebebasan di luar.

Sementara pola asuh ekstrem llunak disebut permisif. Pola asuh ini, yakni membuarkan anak berkembang sendiri, semua hal diperbolehkan, tidak melarang anak dengan alasan tak ingin ada perceksokan dan ketegangan.

Spy mengungkapkan pola asuh permisif membuat anak menganggap semua tempat di luar rumah seperti rumahnya sendiri. Sebab ia mengatakan

Ia mencontohkan hal sederhana menerapkan pola asuh ini, yakni melatih anak merapikan mainannya. Orang tua tegas meminta anak merapikan mainan. Namun, orang tua harus membiarkan anak mengambil caranya sendiri berkreasi melaksanakan tugas itu.


Spy menyebut apabila anak terbiasa memahami kebebasan dan batasan di rumah, mereka cepat menemukan referensi atau bahan menilai keadaan di luar rumah. Namun, ia mengatakan, penerapan pola asuh otoritatif tidak mudah. Sebab, orang tua harus berpikir kreatif, butuh kesabaran dan kepedulian. Dinkes/YA