Berita

Menjamin Keselamat Paseien, Dinkes Gelar Workshop Manajemen Resiko & Keselamatan Pasien

Jumat Pon, 24 November 2017 10:06 WIB 73

foto
dr Hanevi Djasri, MPH saat mengisi tentang Strategi Pengelolaan Sumber Daya & Manajemen RS di Workshop Manajemen Resiko & Keselamatan pasien di Aula RS Griya Mahardika pada rabu, 9 November 2017. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Saat ini paradigma pelayanan kesehatan sudah bergeser dari paradigma“quality” kearah paradigm “quality-safety”. Ini mensyiratkan bahwa bukan hanya mutu pelayanan yang harus ditingkatkan tetapi hal yang lebih penting adalah menjaga keselamatan pasien secara konsisten dan terus menerus. Oleh karena itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul sebagai garda terdepan regulator pelayanan kesehatan di Kabupaten Bantul, menyelenggarakan “Workshop Manajemen Resiko dan Keselamatan Pasein”. Acara yang diselenggarakan selama dua hari ini, Rabu-Kamis (8-9 November 2017)  bertempat di Aula RS Griya Mahardika. 

Pada hari pertama, Rabu (8/11) Workshop diikuti oleh seluruh perwakilan Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP ) Rumah Sakit Se-Kabupaten Bantul. Sedangkan pada hari kedua, Kamis, workshop tak hanya diikuti oleh PMKP RS namun juga diikuti oleh coordinator tim Usaha Kesehatan perorangan (UKP) di Puskesmas se-Kabupaten Bantul dan Perwakilan Dinas Kesehatan Kab. Bantul.

“Patient safety atau keselamatan pasien itu tak hanya berfungsi untuk melindungi pasien saja namun juga menjamin keamanan petugas kesehatan,” ujar dr T. Bintarta Heru S., M.Kes Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan saat memberikan sambutan, Rabu (9/11). Ia juga mengungkapkan kegiatan ini merupakan upaya Dinkes untuk memfasilitasi Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di Kabupaten Bantul untuk bersama-sama berkoordinasi dan bekerjasama, khususnya dalam hal jejaring rujukan guna meningkatkan mutu pelayanan.

drg Tri Wahyuni, MPH Staff Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Bencana menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan follow up dari kegiatan Bimbingan pengawasan dan pengendalian (Binwasdal) atau Monitorinng evaluasi (Monev) Rumah Sakit yang dilakukan oleh Tim Dinkes.

 “Kemarin Kami telah melakukan Monev di seluruh RS se Kabupaten Bantul, hasil dari Monev tersebut kami evaluasi dan follow up melalui kegiatan wrokshop ini,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Bencana (Yanruben) menghadirkan nara sumber dari Program studi Manajemen Rumah Sakit FK UGM, yaitu dr Hanevi Djasri, MPH dan Dr dr Rizaldy Pinzon,Sp.S, M.Kes.  

dr Hanevi mengungkapkan saat ini terbentuk paradigma baru pelayanan kesehatan yaitu terwujudnya  patient safety, patient loyalty, patient satisfaction dengan dukungan SDM rumah sakit yang kompeten. Selain itu tantangan sistem kesehatan saat ini yaitu adanya gap antara ketersediaan dan kesiapan fasyankes dalam pelaksanaan sistem rujukan. Faktanya yang terjadi saat ini sistem rujukan nasional rata-rata di fasyankes tersier adalah kasus yang seharusnya ditangani oleh fasyankes primer.  Setelah ditelusur, ternyata ada beberapa rumah sakit yang  belum maksimal untuk penggunaan Clinical Pathway-nya.  Di rumah sakit jejaring,  Intensif Care Unit (ICU)  belum maksimal pelayanannya. Beberapa rumah sakit kapasitas ICU-nya masih kurang, selain itu SDM yang melayani pun terkadang tidak memadai. Sehingga harus dibenahi stratifikasi rumah sakit rujukan baik regional maupun nasional.

Dr. dr. Rizaldy Pinzon,Sp.S,M.KeUGM mengungkapkan system jaminan kesehatan nasional yang menggunakan system tarif INA CBGs menuntut manajemen rumah sakit untuk mampu melakukan kendali mutu dan kendali biaya, dan salah satu caranya adalah melalui clinical pathway. Clinical pathway adalah suatu alur proses kegiatan pelayanan pasien yang spesifik untuk suatu penyakit atau tindakan tertentu mulai dari pasien masuk sampai pasien pulang yang merupakan inetgrasi dari pelayanan medis, pelayanan keperawatan, pelayanan farmasi dan pelayanan kesehatan lainya.

“dengan penyususnan clinical pathway ini maka mutu pelayanan meningkat, keselamatan pasien terpenuhi dan dapat menekankan cost of care atau biaya yang  dibutuhkan dalam pelayanan,” ungkap dr Pinzon. Dinkes/YA

Baca Juga: Peningkatan Pelayanan Publik, Dinkes Gelar Workshop Pengelolaan Aduan Masyarakat