Berita

Konselor dan Motivator PMBA se-Bantul mengikuti Refresh Materi PMBA untuk Situasi Darurat

Rabu Wage, 20 Desember 2017 14:24 WIB 980

foto
Vista Ari Rahmawati, STr, Gz saat menjadi narasumber dalam Refreshing Konselor dan Motivator PMBA di Aula Medika Dinkes pada Senin, 18 Desember 2017. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Salah satu kinerja utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul adalah tidak ada kematian bayi akibat gizi buruk. Maka dari itu pada Senin (18/12), Seksi Kesga & Gizi menyelenggarakan kegiatan “Refreshing Konselor dan Motivator PMBA”. Kegiaatan yang diselenggarakan di Aula Medika Dinkes ini diikuti oleh seluruh kader dan motivasi sebanyak 60 kader.

“Sebanyak 60 kader telah kami latih sejak tahun 2016, dimana sejak tahun 2016 hingga 207 ini kami telah melakukan 6 kali pelatihan,” ujar Fatma staff Seksi Kesga & Gizi.

dr Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesga & Gizi mengungkapkan kegiatan ini merupakan upaya Dinkes meningkatkan kapasitas kader PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Anak). Penting kader memiliki pengetahuan cara menghadapi susana darurat pada situai bencana seperti banjir yang baru-baru ini melanda Bantul. Terlebih lagi posisi Bantul secara geografis dan demografis rawan terjadi bencana alam dan non alam seperti gempa, tsunami banjir hingga angina puting beliung.

“Pada kondisi normal apalagi situasi bencana, menyusui dan pemberian MPASI berkualitas merupakan upaya penyelamatan nyawa, dibuktikan dari berbagai kajian pasca bencana” ujar dr. Anugrah.

Dalam kajian pasca bencana UNICEF angka kematian bayi usia 0-2 bulan yang tidak disusui lebih dari 500 persen berpotensi meninggal, sedangkan usia 6-11 bulan 40 persen beresiko dibanding dengan balita ASI.

“Selain itu pendekatan bantuan menyusui dan MPASI berkualitas merupakan bentuk intervensi yang sangat bermakna dampaknya, tidak saja memenuhi kebutuhan zat gizi terbaik tetapi juga memberikan sedikir rasa aman,” ungkapnya.

Vista Ari Rahmawati, STr, Gz sebagai Master of Tranier (MOT) PMBA DIY sekaligus staff  Dinas Kesehatan Kab. Sleman yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini mengungkapkan bahwa upaya penanganan gizi dalam situaisi bencana merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai sejak sebelum terjadinya bencana (pra bencana), pada situasi bencana dan pasca bencana.

“Peran tenaga konselor dan motivasi menyusui dan MPASi di daerah pengungsi sangat penting,” ujar Vita.Dinkes/YA