Berita

Mempertahankan Eliminasi Malaria Seksi P2PM Gelar Bimtek Penanganan Malaria untuk Puskesmas & RS Rujukan

Jumat Legi, 22 Desember 2017 08:43 WIB 846

foto
dr. Doni Priambodo Wijisaksono, Sp.PD (kanan) dan dr Sri Wahyu Joko Kepala Seksi P2PM saat menjadi narasumber dalam kegiatan “Bimtek Pengendalian Malaria” bagi dokter di Puskesmas & RS Rujukan pada Rabu 20 Desember 2017 di Aula Medika. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Kabupaten Bantul sebagai wilayah yang tropis kerap terancam penyakit menular yang ditularkan melalui nyamuk. Beberapa penyakit yang ditularkan vektor nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria hingga chikungunya. Oleh karena itu pada Rabu (20/12) lalu, Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menyelenggaarakan “Bimtek Penanganan Malaria di Bantul” untuk Puskesmas & RS Rujukan. Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta dimana mereka adalah perwakilan dari Puskesmas yang ada di Bantul dan 2 RS Rujukan yaitu RS Panembahan Senopati dan RS Hardjolukito.

Walaupun tren jumlah kasus malaria di Kabupaten Bantul mengalami penurunan pada tahun 2017 di bandingkan 2015 dan 2016.


“Ada 5 kasus yang terjadi akibat malaria, yang semuanya adalah kasus malaria impor. Namun kita tetap berusaha agar bantul bebas dari malaria,” ungkap dr Sri Wahyu Joko Kepala Seksi P2PM saat membuka kegiatan  “Bimtek Pengendalian Malaria” bagi dokter di Puskesmas & RS Rujukan.

Ia mengungkapkan Dinkes selalu merefresh pengetahuan dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam hal ini Puskesmas dalam penanganan kasus malaria.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Doni Priambodo Wijisaksono, Sp.PD mengatakan diagnosis malaria harus dilakukan dengan konfirmasi laboratorium mikroskop atau tes diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT).

dr Doni mengatakan, ketika pasien sudah dinyatakan positif terkena malaria, maka ia diberi pengobatan menggunakan terapi kombinasi berbasis DHP (Dihidroartemisinin + Piperakui). Obat ini bisa didpapat gratis di fasilitas kesehatan. Menurut dr.Doni, pengobatan radikal penting diberikan karena bisa membunuh semua stadium parasit dalam tubuh sehingga rantai penularan bisa diputus.

"DHP merupakan obat kombinasi yang efektif dan mencegah timbulnya resistensi. Nah, pengobatan malaria lini 1 yaitu DHP selama 3 hari ditambah primakuin," imbuh dr Doni. Ia menambahkan untuk pasien rawat jalan Pemantauan dilakukan pada : hari ke-2, hari ke-3, hari ke-7, hari ke-14 dan hari ke-28 setelah pemberian obat hari pertama, dengan memonitor gejala  klinis dan pemeriksaan mikroskopik. Dan apabila terjadi perburukan gejala klinis sewaktu-waktu segera kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dinkes/YA