Berita

Monitoring Bidan Desa sebagai langkah Penguatan Program SDIDTK

Jumat Legi, 22 Desember 2017 14:29 WIB 417

foto
Spy Mandrasari, S.Psi, M.Psi Psikolog RS Panembahan Senopati saat menjadi Narasumbe dalam Monev Bidan Desa di Hall Husada pada Rabu, 20 Desember 2017. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi (Kesga & Gizi) kembali menggelar “Monitoring dan evaluasi (Monev) Bidan Desa” , pada Rabu (20/12). Kegiatan rutin ini dan diikuti oleh seluruh Bidan Desa di Kabupatenn Bantul.

“Kegiatan ini selain untuk evaluasi pelaporan bidan desa di tahun 2017 lalu juga sebagai upgrade dan refresh pelayanan SDIDTK pada balita,”ungkap dr. Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesga & Gizi. dr Anugrah mengungkapkan laporan yang telah dikumpulkan nantinya akan diolah dan kemudian diberikan feedback dan menjadi evaluasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Selain itu laporan yang masuk bisa menjadi evaluasi Dinkes untuk mengetahui tingkat kesulitas Bidan Desa dalam menjalankan tugasnya dan mencari solusi bersama agar Kohort bayi & balita berjalan dengan baik.

SDIDTK (Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) adalah pembinaan tumbuh kembang anak secara komperhensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada masa 5 tahun pertama kehidupan. Dalam penyelenggaraan ini tentunya Bidan Desa harus menjalin kemitraan antara keluarga, masyarakat maupun dengan instansi lain seperti sekolah.

Spy Mandrasari, S.Psi, M.Psi Psikolog RS Panembahan Senopati yang menjadi narasumber pertama dalam kegiatan ini mengungkapkan pemantauan dari usia dini akan membantu sang balita mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dan baik sehingga kelak mereka akan menjadi anak yang seperti didambakan.

“Banyak kasus yang di bawa ke RS PS orang tua mengeluh tentang kondisi anaknya yang menyatakan bahwa anaknya speak delay, dan ketika dianalisis ternyata anak kurang stimulasi,” ungkap Spy. Ia juga mengungkapkan Bidan Desa adalah salah satu orang yang paling dekat dengan orang tua atau pengasuhnya. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan oleh ibu, ayah, pengganti orang tua/pengasuh anak, anggota keluarga lain atau kelompok  masyarakat di lingkungan rumah tangga dan dalam kehidupan sehari-hari .

Hal senada juga diungkapkan oleh dr Puji Astuti, M.Sc SpA salah satu dokter RS Panembahan Senopati yang menjadi narasumber kedua mengungkapkan apabila Bidan Desa saat pra sikrining abnormal maka harap dilakukan skrining lanjutan, karena bisa jadi hal tersebut terjadi karena kurang stimulus dari orang tua/pengasuh.

“Saat melakukan skrining Bidan bangun komunikasi yang baik dengan orang tua/pendampin, jelaskan Kuesioner Pra Sekrining (KPSP) kepada orang tua sesuai urutan dalam pengisian,” tambahnya.

dr Puji mengungkapkan saat mendapatkan hasil skrining komunikasikan kepada orang tua dan ajarkan stimulasi sesuai kelompok umur,  cari kemungkinan penyakit, ulangi skrining 2 minggu kemudian dan apabila terjadi hingga 7-8 kali untuk bisa dirujuk. Dinkes/YA

Baca Juga: Dinkes Minta Bidan Desa untuk Pantau Pola Asuh Anak secara Psikologi