Berita

Dinkes Bantul Ajak Desa dan Kecamatan Bersama-sama Tangani Kasus Leptosirosis

Selasa Wage, 20 Maret 2018 09:16 WIB 360

foto
dr. Riris Andono Ahmad dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Pencegahan Leptosirosis di Hall Husada pada Senin, 19 Maret 2018. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes- Senin (19/3), bertempat di Hall Husada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul diselenggarakan Sosialisasi Pencegahan Leptosirosis. Kegiatan yang diikuti oleh Perwakilan kecamatan dan Desa di Kabupaten Bantul ini di isi langsung oleh dr. Riris Andono Ahmad dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Kegiatan ini sebagai upaya Dinkes dalam pencegahan Leptosirosis dengan mengajak lintas sector dalam hal ini desa dan kecamatan untuk berjuang bersama,” ungkap dr Sri Wahyu Joko (dr Oky) Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular.

Sebagai daerah pertanian dan rawan banjir Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah di Yogyakarta yang paling dekat risiko terkena leptospirosis. dr Oky menjelaskan situasi Kasus Leptosirosis yang telah suspect pada tahun 2018 hingga februari 2018 terdapat 26 Kasus. Dari 26 kasus tersebut 1 korban meninggal terkonfirmasi leptospirosis dari hasil audit. Menurut dr Pramudi Darmawan, M.Kes Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes penularan bakteri leptospira salah satunya, yakni melalui genangan air persawahan. Bakteri masuk ke tubuh lewat luka atau lecet, selaput  lendir di dalam mulut, hidung, dan mata. Sehingga mayoritas penderita leptosirosis adalah petani atau orang yang pekerjaanya berhubungan dengan sungai/kolam/sawah yang terkena kencing tikus.

Oleh sebab itu, dr Oky meminta masyarakat menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Caranya usai bekerja menggunakan sabun dan rutin cuci tangan menggunakan sabun. Apalagi setelah bersentuhan dengan obyek yang ditengarai terinfeksi leptosirosis.

dr Riris menjelaskan, bakteri leptospiral yang berbentuk spiral mampu bertahan hidup hingga berbulan-bulan di air maupun tanah.

“Mereka mampu berkembang biak di berbagai jenis hewan termasuk sapi, kambing, kuda, domba maupun anjing. Tetapi yang lebih sering dijumpai pada hewan pengerat khususnya tikus,” urai dr Riris

Gejala awal dari penyakit ini mirip dengan flu misalnya demam kemudian terjadi nyeri otot terutama di daerah kaki dan ketika dipegang penderita merasa kesakitan. Upaya untuk mencegah menurut dr Pram, ketika masuk ke daerah yang banyak air dan tidak jelas kebersihannya, misalnya pada saat banjir maupun di sawah, Dr Pram menyarankan untuk memakai sepatu bot atau pelindung kaki.

“Namun jika penderita sudah mulai terlihat matanya agak merah atau kekuningan kemudian sulit kencing berarti penyakit ini sudah menyerang ginjal. Karena dampak yang terparah adalah ketika sudah terjadi perdarahan dan kerusakan hati maupun ginjal. Dan sampai diperlukan cuci darah sementara untuk penanganan penyakit ini. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini akan menimbulkan kematian,” pungkas dr Pram. Dinkes/YA