Berita

Dinkes Latih Santriwati di Bantul Menjadi Kader Kesehatan Remaja (KKR) Pondok Pesantren Guna Menurunkan Kasus Anemia Remaja

Rabu Legi, 16 Mei 2018 15:15 WIB 54

foto
A. Fahmy A. Tasni, M.Sc, Diet Dosen Gizi dan Kesehatan , FK UGM saat menjadi narasumber dalam "Pelatihan KKR Pondok Pesantern" pada Selasa, 15 Mei 2018 di Aula Koperasi Adil. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Salah satu masalah gizi mikronutrien, Anemia yang banyak dialami remaja Indonesia. Dilihat dari presentasinya masalah kesehatan ini lebih banyak dialami oleh remaja putri daripada remaja laki-laki. Survei anemia remaja Tahun 2012 di DIY diperoleh prevelensi anemi remaja putri usia 12-19 Tahun sebesar 36%. Anemia pada remaja akan berdampak buruk pada penurunan imunitas, konsertasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas.

“Secara khusus anemia dikalangan remaja perempuan lebih tinggi, Anemia pada remaja putri akan berdampak buruk dan lebih serius, mengingat mereka adalah calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seseorang penerus bangsa, dan memperbesar resiko kematian ibu melahirkan, bayi premature dan berat bayi lahir rendah (BBLR)” ujar dr Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Selasa (15/5).

Maka dari itu sebagai salah satu upaya untuk mengatasi hal ini Seksi Kesga & Gizi menyelenggarakan “Pelatihan Kader Kesehatan Remaja (KKR) pada Pondok Pesantren” dalam rangka penanggulangan Anemia di lingkungan pesantren. Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Koperasi Adil ini diikuti oleh 16 Pondok Pesantren yang ada di Bantul. Dimana, Pondok Pesantren diharapkan mewakilkan minimal dua orang untuk menjadi KKR di Pondok Pesantrennya.

“Sejak Tahun 2013 Dinkes memiliki program Inovasi yang bernama Sepekan (Sekolah Peduli Kasus Anemia), yang sudah terlaksana di beberapa sekolah di Bantul, dan pada tahun 2017 mulai dikembangkan pada remaja putri di Pondok Pesantren,” ungkap dr. Anugrah.

dr. Anugrah menjelaskan lebih terperinci bahwa kegiatan Sepekan di Pondok Pesantren ini bertujuan untuk mengetahui status anemia santri sejak dini, membirikan intervensi penderita anemia di Ponpes secara komprehensif, memantau proses intervensi anemia dan menilai hasil intervensi.

Keberhasilan program SePeKAn di Pesantren ini sangat dipengaruhi keberadaan KKR di Ponpes, karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan para Santriwati yang ada di Ponpes. Terlebih lagi metodhe percontohan teman sebaya sangat efektif dalam pendekatan di remaja, program ini juga dapat dikolaborasikan dengan program kesehatan Pondok Pesantren.

Dalam kegiatan pelatihan ini Seksi Kesga & Gizi mengundang pakar Gizi A. Fahmy A. Tasni, M.Sc, Diet Dosen Gizi dan Kesehatan , FK UGM. Dalam kesempatan ini Fahmy juga memberikan panduan sederhana mengenali gejala anemia yaitu anak yang menderita anemia biasanya matanya merah, warna bibir dan kuku pucat, jika mengeluarkan darah warna darah tidak merah segar melainkan agak merah muda.

“Anemia dapat dihindari dengan mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C dan zinc serta pemberian tablet tambah darah (TTD),” ungkap Fahmy.

dr. Anugrah juga mengungkapkan bahwasanya TTD dapat diperoleh di Puskesmas di wilayah Pondok Pesantren masing-masing. Dengan syarat melakukan pengajuan berupa surat yang ditujukan kepada Kepala Puskesmas.

Dalam pelatihan ini selain dibekali oleh materi dari pakar Gizi para peserta juga diberikan pelatihan teknis kegiatan SePeKAn dengan dilengkapi KMS serta form sebagai bekal dalam melakukan tugasnya. Dinkes/YA