Berita

Dinkes Gelar Pekan ASI Seduni 2018

Kamis Pon, 16 Agustus 2018 15:17 WIB 88

foto
Peserta "Pekan ASI Sedunia 2018" di Aula Perpusda Kab. Bantul pada Selasa, 6 Agustus 2018. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes- Minggu pertama (1-7) Agustus merupakan peringatan Air Susu Ibu (ASI), hal tersebut diperingati menjadi Pekan Asi Sedunia. Tema Pekan Asi Sedunia adalah Sustaining Breastfeeding Together, Indonesia mengadaptasinya menjadi “Bekerja Bersama untuk keberlangsungan Pemberian ASI”.

drg Maya Sintowati Pandji MM Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul melalui sambutanya dalam kegiatan Pekan ASI Sedunia 2018 yang diselenggarakan di Aula Perpusda Kab. Bantul, Pekan ASI diselenggarakan bertujuan untuk program keberhasilan menyusui di Kabupaten Bantul.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa dukungan itu harus diwujudkan oleh pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta dan keluarga dalam mempertahankan pemberian ASI selama 6 bulan (ASI Eklusif).

“Keberhasilan menyusui bergantung dari dukungan banyak pihak, olehkarenanya momentum Pekan ASI ini menjadi penting sekali,” ungkapnya, Selasa 7 Agustus 2018.

Olehkarena itu dalam kegiatan ini Dinkes mengundang seluruh OPD, Perwakilan Desa, Kecamatan, Puskesmas, Perwakilan Pabrik, Perbankan, pasar dan organisasi profesi yang ada di Bantul agar turut mendukung Ibu untuk menyusui.

“Ketiadaan ruang laktasi layak membuat karyawan wanita terpaksa memerah ASI di kamar mandi, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi air susu dengan kuman karena tidak higienis. Ruang laktasi yang ada pun seringkali hanya menggunakan ruang seadanya yang tidak layak,” ungkap dr Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesga & Gizi.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pemberian sarana dan fasilitas layak untuk ibu memerah ASI adalah kewajiban bagi perusahaan. Dalam Undang-Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 83, pengusaha diwajibkan memberikan peluang yang layak kepada karyawan wanita dengan bayi yang masih menyusu. Peluang itu di antaranya membangun fasilitas bagi karyawan perempuan untuk menyusui di tempat kerja dan waktu untuk menyusui selama kerja sesuai dengan aturan perusahaan atau kesepakatan kerja bersama.

Hal senada juga diungkapkan oleh dr Ahmad Budoli Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Klaten yang diundang untuk sharing pengalaman dalam menyukseskan Gerakan Pemberian ASI. Pihaknya mengungkapkan bahwa Kabupaten Klaten telah membuat Perda berkaitan dengan pemberian ASI Eksklusif.

“Sebagai kabupaten dimana terdapat perusahan Susu Formula terbesar se Asia Tenggara, namun kami tetap berkomitmen dengan berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat agar menyukseskan pemberian ASI Eksklusif,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh dr Lucy selaku Ketua Forum Laktasi Bantul yang dihadirkan sebagai pembicara untuk gugah semangat dan berikan pemahaman mendalam terkait pentingnya menyusui dan ASI eksklusif kepada para peserta yang berasal dari berbagai kalangan. Ia mengungkapkan memberikan ASI tanpa menambahkan makanan atau minuman lain hingga bayi berusia enam bulan atau biasa disebut ASI eksklusif. Setelah enam bulan dilanjutkan dengan memberikan makanan pendamping ASI dan meneruskan pemberian ASI hingga anak usia 2 tahun.

“Pemberian ASI itu sangat vital bagi anak, dimana bisa menjadikan anak cerdas dan sehat dan sebagai modal kemajuan generasi penerus kita,” ujarnya.

Ia menyebutkan standar dalam pemberian makan pada bayi dan anak. Pertama, menyusui harus segera dilakukan dalam satu jam setelah lahir. Kedua, menyusui bayi sejak lahir sampai usia enam bulan; ketiga, mulai umur enam bulan bayi mendapatkan makanan pendamping ASI; keempat, menyusui sampai bayi usia dua tahun. Dinkes/YA