Berita

Dinkes Sosialisasi Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik keDesa endemic DBD di Kabupaten Bantul

Senin Legi, 3 September 2018 09:29 WIB 74

foto
dr Agus Triwidiantara, MMR Plh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) saat membuka kegiatan yang diselenggarakan di Hall Husada Dinkes Kabupaten Bantul pada Senin, 27 Agustus 2018. DInkes/YA

Bantul, Dinkes-Berkaitan dengan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menyelenggarakan “Sosialisasi Gekaran Satu Rumah Satu Jumantik,”. Kegiatan yang diselenggaran di Hall Husada bantul ini dihadiri oleh Kepala Desa dan Kepala Puskesmas yang menjadi wilayah endemic DBD di Kabupaten Bantul.

dr Sri Wahyu Joko Santoso Kepala Seksi P2PM mengungkapkan bahwasanya jumantik di Kabupaten Bantul sudah ada sejak lama dan gerakan ini merupakan singkatan dari Juru Pemantau jentik, mereka adalah anggota masayarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes Aegypti dilingkungannya, melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin. Jumatik juga berperan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsagaan masyarakat menghadapi demam berdarah dengue (DBD).

“Kita sewua wajib mawas diri terhadap keberadaan jentik nyamuk di rumah kita sendiri” tutur dr Agus Triwidiantara, MMR Plh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) saat membuka kegiatan yang diselenggarakan di Hall Husada Dinkes Kabupaten Bantul ini.

Penerapan gerakan satu rumah satu jumantik ini diharapkan dapat mengendalikan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegtpti terutama jentik nyamuknya. Kaarena membasmi jentik-jentik nyamuk dinilai lebih utama dibandingkan mengendalikan saat sudah menjadi nyamuk dewasa, sangatlah penting bagi setiap keluarga di rumah memiliki satu orang yang rutin memantau jentik di berbagai tempat penampung air di sekitar rumahnya. Dengan berkurangnya jentik nyamuk maka jumlah nyamuk dewasa penular demam berdarah dengue akan berkurang yang selanjutnya akan mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini.

Diharapkan setiap gedung, tempat-tempat institusi dan juga tempat tempat umum juga mempunyai orang yang diberi tanggungjawab dalam pemantauan jentik disetiap lingkungan tersebut.

Meskipun pada tahun 2018 ini angka kasus DBD di Kabupaten Bantul menurun tajam, dimana hingga juli 2018 terdapat 90 kasus. Dibanding 2 tahun kebelakang dimana jumlah DBD pada tahun 2016 sejumlah 2440 kasus dan 2017 1441 kasus.

“Namun kita tetap harus waspada penyebaran nyamuk aides aegypti sebagai pembawa virus dengue,” ujar dr Agus

Dr Agus menekankan pentingnya komitmen masyrakat untuk melakukan PSN 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Dan peran desa dalam mengggemakan gerakan jumayik pada warganya, agar kasus DBD di Bantul dapat terkendali.  (Dinkes/YA)