Berita

Kepala Dinkes Kabupaten Bantul: Pengobatan skizofrenia butuh dukungan Pemerintah & Kepedulian Berbagai Pihak

Rabu Pon, 5 September 2018 10:59 WIB 318

foto
drg. Maya Sintowati Pandji, MM Kepala Dinkes Kabupaten Bantul saat menyampaikan topik “Upaya Penanganan Skizofrenia di Kabupaten Bantul” di Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 di JW Marriot Hotel Jakarta pada 31 Agustus 2018. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Para ahli kesehatan jiwa terkemuka dari wilayah Asia Tenggara akan berkumpul bersama dalam Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 di Jakarta, pada tanggal 30 - 31 Agustus 2018, untuk saling berbagi pembelajaran dan mengembangkan strategi untuk mengatasi kesenjangan dalam manajemen kesehatan mental di negara-negara Asia Tenggara.

Lebih dari 150 peserta yang berasal dari kalangan dari berbagai elemen dari bisnis, pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, akademisi dan media hadir dalam forum yang bertemakan - ‘Mewujudkan kepedulian bersama untuk pengobatan Skizofrenia’. Tema ini menyoroti komitmen terhadap kerja sama internasional sebagai upaya dalam memecahkan sejumlah tantangan global yang penting bagi kesehatan jiwa dengan fokus pada manajemen Skizofrenia dan akses pengobatan, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) di Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa emosional yang ditunjukkan oleh gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan untuk prevalensi gangguan jiwa berat, seperti Skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Sementara itu, menurut data WHO pada tahun 2016, secara global, terdapat sekitar 35 juta orang yang mengalami depresi, 60 juta orang dengan gangguan bipolar, 21 juta orang dengan Skizofrenia, dan 47,5 juta orang dengan demensia.

Secara global, mayoritas dari mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa di seluruh dunia tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental berkualitas tinggi. Stigma, kurangnya sumber daya manusia, model pemberian layanan yang terfragmentasi, dan kurangnya kapasitas penelitian untuk implementasi dan perubahan kebijakan berkontribusi pada kesenjangan perawatan kesehatan jiwa saat ini. Fakta yang dikeluarkan oleh WHO, Mental Health Gap Action Programme (mhGAP) pada tahun 2008 telah memperkirakan bahwa lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa di negara-negara berkembang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan. Laporan yang sama menyatakan bahwa setidaknya sepertiga pasien dengan Skizofrenia dan lebih dari setengahnya menderita depresi, mengkonsumsi alkohol dan menyalahgunakan narkoba, tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dalam setahun.

Laporan WHO tentang Investing in Mental Health pada tahun 2013 mengungkapkan bahwa banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalokasikan kurang dari 2% atau bahkan 1% dari anggaran kesehatan untuk perawatan dan pencegahan gangguan jiwa/mental.

Hadir dalam forum tersebut drg. Maya Sintowati Pandji, MM Kepala Dinkes Kabupaten Bantul menyampaikan paparan topic berkaitan dengan “Upaya Penanganan Skizofrenia di Kabupaten Bantul”.

Ia mengungkapkan dalam penanganan Skizofrenia di Bantul kuncinya adalah dengan cara memiliki sistem pendukung yang kuat dan mendapatkan perawatan yang tepat.

“Kabupaten Bantul terus berupaya memberikan pengobatan yang tepat, agar pasien skizofrenia di Bantul dapat memiliki aktivitas lain yang bermakna bahkan menjadi bagian dari komunitas,” ujar drg Maya

Penanganan Skizofrenia di Kabaupaten Bantul, menjelaskan bahwa program-program yang dilaksanakan berupa: (a) Penemuan Kasus Skizofrenia melalui Petugas, Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ), Posbindu PTM dan Lintas Sektor yang tergabung Dallam Tim Pembina Kesehatan Jiwa. (b) Terapi melalui Kerjasama dengan RSJ, RSUD dan Institusi Pendidikan, pelayanan psikolog di Puskesmas, Familiy Gathering, Terapi Aktifitas Fisik (TAK). (c)Rehabilitasi melalui Rehabilitasi berbasis masyarakat, terapi modalitas dan kerjasama dengan Dinsos.

Ketiga elemen tersebut Kabupaten Bantul jelas drg Maya memiliki berbagai program Inovasi seperti Jawara Gaul (Jaga Jiwa Raga Warga Rutan Bantul), Poli Tamu sitimewa, Gelimas Jiwo (Gerakan Peduli Masyarakat Sehat Jiwa), Raja Ampuh (Rawat gangguan Jiwa Sampai Sembuh), Pembebasan Pasung, Program Kerjasama dengan Institusi Pendidikan Psikiatri, dan bekerjasama dengan RSJ dan RSUD. 

 “Dalam penanganan Skizofrenia di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam hal ini puskesmas perlu dukungan kebijakan Keswa dalam pencapaian SPM dan IKS selain itu perlunya kebijakan pelayanan psikolog di Puskesmas,” terang drg Maya.

Selama pertemuan dua hari di Jakarta tersebut, para ahli kesehatan jiwa saling berbagi praktik terbaik dan pembelajaran dari negara masing-masing mengenai manajemen Skizofrenia dan implementasinya dalam komunitas. (Dinkes/YA)