Berita

Seksi P2P Sosialisasikan TB di Lingkungan Disdikpora Kabupaten Bantul

Kamis Kliwon, 1 November 2018 09:24 WIB 31

foto
dr. Sri Wahyu Joko saat menyampaikan mengenai kasus TB di Bantul di depan FGTK Kab. Bantul di Diasdikpora Kab. Bantul.

Bantul, Dinkes- Seksi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menyelenggarakan “Sosialisasi TB di Lingkungan Disdikpora Kabupaten Bantul”. Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah mensosiaisasikan tentang TB di lingkup pendidikan agar lebih peduli terhadap kasus TB.

“tentu pencegahan dan pengendalian TB adalah penemuan kasus dan pengobatan diharapkan penerapan program Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TB dalam dunia pendidikan dapat berjalan dengan optimal,” ungkap dr Sri Wahyu  Joko Santoso Kepala Seksi P2P di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bantul didiepan para pengurus FGTK Kab. Bantul.

Ia mengungkapkan di Kabupaten Bantul data kasus TB pada Triwulan I-III terdapat 718 kasus TB yang beralamatkan Bantul. Dimana terdapat 19 pasien merupakan pelajar dan 8 pasien merupakan guru/dosen.

“Kapan Bantul bebas TB? Untuk mencapai hal tersebut kita harus bekerja bersama. Kita harus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat termasuk kepedulian terhadap penyakit TB,” tegas dr Wahyu. Ia mengungkapkan berbagai upaya terus diupayakan oleh Dinkes dan Fasilitas Kesehatan namun keberhasilah upaya pemberantasan TB memerlukan peran dan dukungan dari masyarakat bagi penderita agar dapat minum obat secara teratur dan sampai selesai pengobatan sangat berarti untuk keberhasilan pencegahan dan pengendalian TB.

Dr. Andajani Woerjandari, M.Kes., TO PPM/PPO GF TB Dinkes Provinsi DIY mengungkapkan bahwasanya peran lintas sektor menjadi penting seperti proses deteksi dini dan dukungan agar penderita minum obat secara teratur. Beliau menjelaskan bahwa  gejala pada TB terbagi menjadi dua, yaitu pertama gejala repspiratorik: batuk-batuk lama lebih dari 3 minggu, dahak yang mukoid sampai mukopurulan, nyeri dada sampai batuk darah serta sesak napas. Kedua Gejala Sistemik : Malaise, anoreksia, BB menurun, keringat malam, akut (demam tinggi, menggigil), millier (demam akut, sesak napas, sianosis).

Dr Andjani mengungkapkan bahwa Guru sebagai elemen dari sebuah komunal bernama sekolahan harus paham tentang gejala-gejala tersebut. Sehingga guru dapat menemukan kasus TB dengan gejala, guru dapat melacak potensi penularan pada anggota keluarga dan komunitas (tetangga dan tempat kerja dalam hal ini sekolah), guru dapat memfasilitasi jika menemukan kasus TB di lingkungannya serta memberi dorongan agar pasien minum obat secara teratur dan tuntas. Dinkes/YA