Berita

PELATIHAN KONSELOR BERHENTI MEROKOK UNTUK KADER DESA SIAGA KABUPATEN BANTUL TAHUN 2013

Jumat Pahing, 3 Mei 2013 10:49 WIB 4007

Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul selama 3 (tiga) hari pada tanggal 24, 25 dan 26 April 2013, telah menyelenggarakan Pelatihan Konselor Berhenti Merokok Bagi Kader Desa Siaga, bertempat di Gedung Pertemuan Komplek II Kantor Pemda Bantul, Jl. Lingkar Timur, Manding, Trirenggo Bantul. Narasumber Pelatihan ini dari Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan, Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan dan Quit Tobacco Indonesia. Peserta yang diikuti oleh Kader Desa Siaga se-Kabupaten Bantul dengan masing-masing Puskesmas mengirimkan 2 Orang. Dipilihnya kader desa siaga sebagai peserta pelatihan ini karena pengertian atau inti dari Desa Siaga adalah Pemberdayaan Masyarakat yang didalamnya penduduk/warga/masyarakatnya : 1. Dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar dengan mudah, 2. Mengembangkan UKBM dan melaksanakan surveilans berbasis masyarakat, kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana serta penyehatan lingkungan sehingga, 3. Masyarakat menerapkan Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu indikator PHBS tatanan rumah tangga adalah tidak merokok di dalam rumah. Sebagai tindaklanjut dari terbentuknya Kawasan Dilarang Merokok (KDM), untuk memotivasi masyarakat mematuhi aturan Kawasan Dilarang Merokok (KDM) maka perlu motivator (kader) sebagai konselor berhenti merokok. Mengapa diperlukan konselor berhenti merokok????? Sebagai gambaran mari kita baca ilustrasi berbagai penelitian dan riset berikut ini……… Merokok telah menjadi kebiasaan dimasyarakat yang dapat menimbulkan berbagai kerugian baik secara sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Banyak perokok yang tidak sadar bahaya merokok, karena untuk melihat pengaruh terhadap kesehatan diperlukan rentang waktu yang sangat lama, lebih dari 25 tahun, antara saat mulai merokok pertama kali sampai munculnya banyak penyakit kronis. Konsumsi rokok mengakibatkan kematian paling sedikit 400.000 orang per tahun di Indonesia dan berdampak buruk terhadap seluruh organ tubuh manusia (WHO, 2004). Data dari penelitian Soewarta Kosen (2006) dari Litbang Depkes, disebutkan bahwa biaya kesehatan akibat konsumsi tembakau sebanyak tiga kali lipat dari pendapatan pemerintah yang diperoleh dari cukai rokok. Mereka yang bukan perokok tetapi menghisap asap rokok (perokok pasif) juga memiliki resiko terkena penyakit yang mematikan. Data tahun 2004 menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pasif adalah perempuan yang jumlahnya mencapai 65 juta (66%) dari total perorok pasif. Mereka terpapar asap rokok di rumah, di kantor, atau tempat-tempat umum lainnya. Hasil pendataan PHBS tatanan Rumah Tangga Kabupaten Bantul Tahun 2012 menunjukan capaian indikator tidak merokok di dalam rumah sebesar 54,34 % mengalami peningkatan disbanding tahun 2011 yaitu 51,69%. Data ini menunjukkan bahwa sebesar 45,66% % rumah tangga di Bantul, anggota keluarganya terpapar oleh asap rokok orang lain, hal ini telah mengalami penurunan dibanding tahun 2011 (48,31%). Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2010), prevalensi perokok usia 10 tahun ke atas di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebesar 20,8% yang merupakan perokok setiap hari dan 7,0% yang merupakan perokok kadang-kadang. Konsumsi rokok yang besar ini tentunya akan memberikan resiko yang tinggi pada berbagai macam penyakit. Penelitian yang dilakukan oleh Ahsan et.al (2008) dengan menggunakan data SUSENAS 2005 memperlihatkan pengeluaran rumah tangga perokok untuk tembakau/rokok adalah 11,5 persen, atau nomor dua setelah pengeluaran untuk padi-padian (13,14 persen). Artinya, masyarakat menempatkan belanja rokok di bawah belanja beras. Porsi pengeluaran rumah tangga perokok untuk tembakau/rokok jauh lebih besar dibandingkan untuk kesehatan dan pendidikan. Selain berdampak kepada perokok, Asap Rokok Orang Lain (AROL) atau secondhand smoke juga mengakibatkan perokok pasif yang akan berpotensi terkena penyakit mematikan seperti kanker paru, penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga kemandulan. Angka pesakitan akibat AROL ini semakin melengkapi jumlah tiga juta orang perokok aktif di Yogyakarta yang secara langsung menghirup puluhan zat karsinogen melalui puntung rokok yang mereka hisap. Masalah bahaya asap rokok ini telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan mengeluarkan Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2007 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Dalam Pasal 11 ayat (1) disebutkan bahwa: “Setiap orang dilarang merokok di kawasan dilarang merokok.” Selanjutnya pada ayat (2) disebutkan: “Penetapan kawasan dilarang merokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Gubernur dan atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.” Berdasarkan amanat Pasal tersebut, maka ditetapkanlah Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2009 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Kawasan yang dimaksud adalah tempat umum, sarana kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat ibadah, tempat bekerja, tempat bermain anak-anak dan angkutan umum. Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2009 tentang Kawasan Dilarang Merokok disyahkan pada tanggal 14 Oktober 2009. Sementara itu, di dalam Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam pasal 115 ayat 2 menyebutkan bahwa “Pemerintah Daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya”

Pelayanan Dinas Kesehatan
  1. Pelayanan Permintaan Data
  2. Pelayanan Perijinan dan Rekomendasi
  3. Pelayanan Permintaan TIM PPPK
  4. Pelayanan Fogging Focus Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue
  5. Pelayanan Praktek Kerja Lapangan dan Mitra Eksternal
  6. Pelayanan Pemeriksaan Kualitas Air Bersih dan Air Minum dalam rangka Pengawasan Kualitas Air di Kabupaten Bantul
  7. Pelayanan Respon Cepat terhadap Pelaporan Dugaan Kejadian Luar Biasa oleh Masyarakat