Berita

ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN BAHAN MAKANAN TAMBAHAN DAN FORMULA 100 TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN BALITA

Sabtu Pahing, 18 Mei 2013 11:54 WIB 4635

ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN BAHAN MAKANAN TAMBAHAN DAN FORMULA 100 TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN BALITA KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) DI PUSKESMAS SEDAYU II, KABUPATEN BANTUL, DIY Nanik Tejowati 1, Herawati 2, Sumirah 3 ABSTRACT Background: The Protein Energy Malnutrition(PEM) still dominates the field of nutrition problem in Indonesia. The percentage of PEM events in DIY is still high, that is 11.36 % in the year 2009. Meanwhile, in 2011 in Bantul Regency, the percentage for malnutrition was 0.52% and 10.79% for undernourished babies. The Sedayu II Public Health Center had monitoring that in 2012 there was 0.94% malnutritious babies and 14.1% of them were undernourished. One of the government policies to tackle malnutrition problems is the program of recovery supplement food provision. This program has been carried out by the Sedayu II Public Health Center in the Village’s Nutrition Recovery Post by distributing food packages and Formula 100. Objective: Recognizing the influence of energy and protein from food supplement and Formula 100 intakes toward the under-fives’ body weight changes. Method:This was a quasi-experiment type of study which applied time series design. The subjects of the studywere 25 under-fives who suffered from malnutrition or undernourishment and who were underweight or severely underweight. The study took place in the Village’s Nutrition Recovery Posts of Argorejo and Argodadi villages. The free variableswere the intakes of Food Recovery Supplement (FRS) and non FRS protein energy. The contribution of FRS and the accompanying diseases with bound variable was the changing of the body weight and nutrient status. As for the hypothesis test, wilcoxon and Spearman Rank statistical test were utilized. Result: Food Recovery Supplement is in the form of Formula 100 and food supplement packages. The content of the energy is 422 Kkal and protein is 15.8 grams. The average of energy intake from FRS is 337.4 Kkal (80.01%) and protein 12.74 (80.61%). FRS’s energy contribution is 33.76% of the Recommended Dietary Allowances (RDA) and the protein contribution is 50.96% of the RDA. The non FRS energy intake is 1026.70 Kkal (83.36% of the RDA) and the non-PMT protein intake is 30.06 grams(97.18% of the RDA). There is a significant body weight improvement, which is 8.52 ons (852 grams). Conclusion: There is significant influence of energy and protein from food supplement and Formula 100 intakes toward the under-fives’ body weight changes. Keywords: energy protein intakes, food supplement, Formula 100, under-fives’ body weight changes. ABSTRAK Latar Belakang : Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP). Kejadian KEP di Propinsi DIY masih tinggi yaitu sebesar 11,36% pada tahun 2009. Sedangkan di Kabupaten Bantul tahun 2011 terdapat 0,52% gizi buruk dan 10,79% balita gizi kurang. Pemantauan Status Gizi Balita Puskesmas Sedayu II tahun 2012 tercatat sebesar 0,94% gizi buruk dan 14,1% gizi kurang. Salah satu kebijakan pemerintah untuk menanggulangi gizi buruk adalah program pemberian makanan tambahan pemulihan. Program ini telah dilaksanakan oleh Puskesmas Sedayu II di Pos Pemulihan Gizi Desa dengan pemberian paket bahan makanan dan Formula 100. Tujuan Penelitian : Diketahuinya pengaruh asupan energi dan protein bahan makanan dan formula 100 terhadap perubahan berat badan balita. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini quasy eksperimen dengan rancangan time series design. Sebanyak 25 balita dengan status gizi buruk dan kurang serta kurus dan sangat kurus dijadikan subjek penelitian. Lokasi di Pos Pemulihan Gizi Desa Argorejo dan Argodadi. Variabel bebas adalah asupan energi protein PMT dan non PMT, kontribusi PMT dan penyakit penyerta dengan variabel terikat adalah perubahan berat badan dan status gizi. Untuk uji hipotesis digunakan uji statistik wilcoxon dan Spearman Rank. Hasil: PMT berupa formula 100 dan bahan makanan. Kandungan energi 422 Kkal dan protein 15.8 gram. Rata-rata asupan energi dari PMT adalah 337,4 Kkal (80,01%) dan protein 12,74 gram (80,61%). Kontribusi energi PMT sebesar 33,76% dari AKG dan kontribusi protein sebesar 50,96% dari AKG. Asupan energi non PMT 1026,70 Kkal (83,36% dari AKG) dan asupan protein non PMT 30,06 gram (97,18% dari AKG). Ada peningkatan berat badan balita secara signifikan sebesar 8,52 ons (852 gram). Kesimpulan : Ada pengaruh signifikan asupan energi dan protein bahan makanan tambahan dan formula 100 terhadap perubahan berat badan balita. Kata kunci : Asupan energi protein, bahan makanan tambahan, formula 100, perubahan berat badan balita 1 Mhs DIV Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yk(email: nante_83@yahoo.co.id) 2,3 Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yk PENDAHULUAN Masalah gizi di Indonesia dan dinegara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa secara nasional prevalensi balita gizi buruk sebesar 4,9% dan gizi kurang sebesar 13,0% sehingga prevalensi total menjadi 17,9%. Kejadian Kurang Energi Protein (KEP) di Propinsi DIY masih tinggi yaitu sebesar 11,78% 11,36% pada tahun 2009¹. Di Kabupaten Bantul tahun 2011 terdapat 0,52% gizi buruk dan 10,79% balita gizi kurang². Pemantauan Status Gizi Balita Puskesmas Sedayu II tahun 2012 sebesar 0,94% mengalami gizi buruk dan 14,1% adalah balita gizi kurang³. Salah satu kebijakan pemerintah untuk menanggulangi masalah balita gizi buruk adalah dengan menjadikan tatalaksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang ditemukan. Bagian dari tata laksana gizi buruk adalah program pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita gizi4. Program pemberian makanan tambahan pemulihan telah dilaksanakan oleh Puskesmas Sedayu II sebagai bentuk penanganan masalah gizi balita secara rawat jalan. Program yang tahun sebelumnya dilaksanakan di puskesmas dengan pemberian bahan makanan lokal saja, untuk tahun ini dilaksanakan di Pos Pemulihan Gizi Desa dengan pemberian makanan tambahan berupa gabungan paket bahan makanan dan Formula 100. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh asupan energi dan protein bahan makanan tambahan dan formula 100 terhadap perubahan berat badan balita. METODE Penelitian ini merupakan penelitian quasy eksperimen dengan rancangan time series design. Subjek penelitian adalah semua balita KEP hasil pemantauan status gizi tahun 2012 di Puskesmas Sedayu II dengan kriteria inklusi balita dengan status gizi buruk dan kurang (dengan indeks BB/U) serta kurus dan sangat kurus (dengan indeks BB/TB. Sebanyak 25 balita menjadi subjek penelitian. Lokasi penelitian di Pos Pemulihan Gizi Desa Argorejo dan Argodadi pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2012. Variabel bebas adalah asupan energi protein PMT dan non PMT, kontribusi PMT dan penyakit penyerta dengan variabel terikat adalah perubahan berat badan dan status gizi. Uji hipotesis menggunakan uji statistik wilcoxon dan Spearman Rank Test. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Subjek penelitian Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 1. Dari 25 subjek penelitian paling banyak adalah berumur antara 1 hingga 3 tahun (60%), berjenis kelamin perempuan (60%). Status gizi subjek pada saat awal penelitian 92% mengalami status kurus dan hanya ada 1 subjek dengan status sangat kurus 4%. Sebagian besar subjek (52%) mempunyai penyakit penyerta. Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian Karakteristik Subjek Jumlah (balita) Prosentase (%) Umur 1-3 tahun 15 60,0 4-5 tahun 10 40,0 jenis Kelamin Laki-laki 10 40,0 Perempuan 15 60,0 Status Gizi (BB/TB) Sangat Kurus 1 4,0 Kurus 24 96,0 Penyakit Penyerta Ada 13 52,0 Tidak Ada 12 48,0 Karakteristik orang tua dari subjek penelitian terlihat pada tabel 2. Dari tabel 2 dikatahui Sebagian besar umur ibu subjek penelitian adalah berkisar antara 31-40 tahun (68%), dengan pendidikan sebagian besar pendidikan tinggi (64%) serta berprofesi sebagai ibu rumah tangga (52%).Sebagian besar umur ayah subjek penelitian 31-40 tahun (68%) dengan pendidikan tinggi (60%) serta berprofesi sebagai buruh sebanyak 92%. Tabel 2. Karakteristik Orang Tua Subjek Penelitian Karakteristik Orang Tua Jumlah (orang) Prosentase (%) Umur ibu 20-30 5 20,0 31-40 17 68,0 41-50 3 12,0 Umur Ayah 20-30 3 12,0 31-40 17 68,0 41-50 5 20,0 Pendidikan Ibu SD 5 20,0 SMP 4 16,0 SMA 16 64,0 Pendidikan Ayah SD 6 24,0 SMP 4 16,0 SMA 15 60,0 Pekerjaan Ibu Ibu Rumah tangga 13 52,0 Buruh 11 44,0 Dagang 1 4,0 Pekerjaan Ayah Buruh 23 92,0 Swasta 2 8,0 Kandungan Gizi Dari PMT Yang Diberikan PMT yang diberikan mengandung gizi sebagai berikut Tabel 3. Kandungan Gizi Bahan Makanan Tambahan No Bahan Energi (Kkal) Protein (Gr) 1 Formula 100 (3x100ml) 300 8,7 2. Telur Ayam (1 butir, 50 gr) 77 6,2 3. I porsi buah (100 gr) 45 0,9 Jumlah 422 15,8 Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa bahan yang diberikan dalam program PMT sudah sesuai dengan buku pedoman pemberian makanan tambahan yaitu bahan yang diberikan harus memberikan tambahan gizi energi 300-400 Kkal dan 10-15 gr protein5. Asupan Energi Dan Protein Dari PMT Hasil rata-rata asupan energi dan protein anak sebagai berikut : Tabel 4. Asupan Energi Protein dari PMT asupan zat gizi % terhadap yang disajikan Kategori Energi (kkal) rata-rata 337.64 80.01 Sedang Minimal 103.66 Maksimal 402.34 Protein (Gram) rata-rata 12.74 80.61 Sedang Minimal 4.73 Maksimal 14.69 Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa subjek penelitian rata-rata mengkonsumsi makanan tambahan yang diberikan dengan asupan energi 80,01 % dan protein 80.61 %. Rentang minimal dan maksimal yang cukup jauh menunjukkan ada subjek penelitian yang menyukai bahan makanan yang diberikan, tetapi ada pula yang susah untuk menghabiskan bahan makanan tambahan. Karakteristik anak usia balita antara lain anak sukar makan, nafsu makan anak tidak menentu, anak menyukai jenis makanan tertentu serta anak cepat bosan dengan jenis makanan tertentu sehingga memang untuk memberikan makanan tambahan perlu trik-trik yang berbeda setiap anak6. Tingkat asupan zat gizi dari PMT adalah persentase asupan energi dan protein balita terhadap jumlah PMT yang disajikan. Dikelompokkan menjadi kategori baik bila asupan 100%, sedang bila antara 80%-99% dan kurang bila < 80%. Hasil dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Tingkat Asupan Zat Gizi PMT (n=25 balita) Tingkat asupan zat gizi Jumlah (balita) Prosentase (%) Energi Baik 0 0.0 Sedang 22 88.0 Kurang 3 12.0 Protein Baik 0 0.0 Sedang 22 88.0 Kurang 3 12.0 Dari tabel 5 dapat terlihat sebagian besar (88%) balita mengkonsumsi energi bahan makanan tambahan dan formula 100 dalam kategori sedang. Demikian halnya dengan konsumsi protein bahan makanan tambahan dan formula 100, sebagian besar balita (88%) masih mengkonsumsi secara sedang. Belum maksimalnya konsumsi makanan tambahan oleh balita selain memang karakteristik balita yang susah makan, dapat dimungkinkan karena daya terima formula 100 oleh sebagian balita pada awal pemberian makanan tambahan memang masih minim. Kontribusi Makanan Tambahan Terhadap Kecukupan Gizi Dalam program pemberian makanan tambahan di Puskesmas Sedayu II, makanan tambahan rata-rata dapat memberikan kontribusi kepada kecukupan gizi energi balita sebagai berikut : Tabel 6 Kontribusi Makanan Tambahan Terhadap Angka Kecukupan Energi No Kelompok Umur Kecukupan Energi (Kkal) rata-rata asupan Energi (Kkal) Kontribusi (%) 1 1-3 tahun 1000 337.64 33.76 2 4-6 tahun 1550 337.64 21.78 Makanan tambahan yang diberikan untuk anak dengan umur 1-3 tahun sudah memberikan kontribusi sebesar 33.76% sehingga telah sesuai pedoman, akan tetapi untuk anak usia di atasnya masih belum mencapai 30%. Sedangkan kontribusi rata-rata makanan tambahan pada kecukupan protein adalah sebagai berikut : Tabel 7. Kontribusi Makanan Tambahan Terhadap Angka Kecukupan Protein No Kelompok Umur Kecukupan Protein (gr) rata-rata asupan Protein(gr) Kontribusi (%) 1 1-3 tahun 25 12.74 50.96 2 4-6 tahun 39 12.74 32.67 Makanan tambahan yang diberikan untuk anak dengan umur 1-3 tahun dan 4-6 tahun sudah memberikan kontribusi sebesar 50,96% dan 32,67% sehingga telah sesuai pedoman pemberian makanan tambahan. Diberikannya formula 100 sebagai makanan tumbuh kejar dengan kategori tinggi kalori dan tinggi protein juga dimaksudkan untuk menambah asupan energi dan protein khusunya untuk balita dengan status gizi kurus dan kurus sekali7. Asupan Makanan Non PMT .Tabel 8 menunjukkan rata-rata asupan balita diluar makanan tambahan : Tabel 8. Rata-rata Asupan Non PMT asupan zat gizi % Terhadap AKG kategori Energi (kkal) rata-rata 1026.70 83.36 Sedang Minimal 805.50 Maksimal 1345.50 Protein (Gram) rata-rata 30.06 97.18 sedang Minimal 20.29 Maksimal 44.67 Kondisi anak dengan berat badan kurang memang salah satu penyebab adalah asupan harian yang juga belum memenuhi kecukupan gizi yang dianjurkan. Rata rata anak hanya mendapatkan asupan energi sebesar 83,36% dari makanan harian. Sedangkan untuk kecukupan protein persentasenya juga masih belum tercukupi dengan angka 97,18%. Namun demikian persentase pemenuhan protein lebih tinggi daripada energi. Hal ini dapat disebabkan karena porsi lauk pauk lebih sering dihabiskan balita daripada makanan pokoknya. Adapun kategori asupan energi dan protein rata-rata masing-masing balita disajikan pada tabel 9 Asupan energi makanan non PMT dari 25 balita penerima PMT sebagian besar (88%) kategori sedang Untuk asupan protein, ada 6 anak atau sebesar 24% yang berkategori baik, akan tetapi sebagian besar balita (72%) berkategori sedang. Tingkat asupan zat gizi dari makanan non PMT adalah persentase asupan energi dan protein balita dari makanan selain PMT yang disajikan dirumah terhadap angka kecukupan gizi balita. Dikelompokkan menjadi kategori baik bila asupan 100%, sedang bila asupan antara 80%-99% dan kurang bila asupan < 80%. Hasil dapat dilihat pada tabel 9. Tabel 9 Tingkat Asupan Zat Gizi Makanan Non PMT (n=25 balita) Kategori asupan zat gizi Jumlah (balita) Prosentase (%) Energi Baik 1 4.0 Sedang 22 88.0 Kurang 2 8.0 Protein Baik 6 24.0 Sedang 18 72.0 Kurang 1 4.0 Sebagian besar balita penerima PMT (60%) adalah balita usia 1-3 tahun. Usia 1-3 tahun adalah konsumen pasif yang artinya anak menerima makanan apa yang disediakan ibunya8. Sehingga beberapa anak yang asupan makanan non PMT masih kurang sangat perlu peran serta aktif dari ibu atau pengasuh untuk memberikan makanan secara lebih telaten dan lebih bervariasi. Perubahan Berat Badan Dan Status Gizi Salah satu indikator keberhasilan program pemberian makanan tambahan untuk balita kurang energi protein adalah peningkatan berat badan sebagai akibat asupan zat gizi serta perbaikan status gizi9. Kenaikan berat badan minimal untuk anak diatas usia 1 tahun 2 ons setiap bulannya. Jika kenaikan minimal tersebut terpenuhi atau lebih, anak dapat dikategorikan naik berat badannya10. Tabel 10 berikut menunjukan rata-rata peningkatan berat badan balita selama program pemberian makanan tambahan : Tabel 10. Rata-rata Kenaikan Berat Badan Balita Kenaikan berat Badan Ons Kategori p (uji Wilcoxon sign rank test) Berat Badan rata-rata 8.52 Naik p 0.000 Minimal 3.00 Maksimal 18.00 Ada peningkatan berat badan yang signifikan dengan p=0.000 yang memang kurang dari 0.05. rata-rata kenaikan berat badan 8,52 ons selama 90 hari Kenaikan berat badan di atas menunjukan bahwa program pemberian makanan tambahan memberikan hasil yang cukup bagus. Penggunaan makanan oleh tubuh tergantung pemasukan, pencernaan dan penyerapan oleh tubuh. Asupan makanan yang kurang dalam tubuh akan menyebabkan persediaan / simpanan zat gizi dalam tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila hal ini berlangsung lama, maka simpanan zat gizi dalam tubuh akan habis dan akhirnya terjadi kemerosotan jaringan yang ditandai dengan penurunan berat badan. Begitu pula sebaliknya, apabila asupan dalam tubuh cukup atau berlebih, maka kelebihan zat gizi akan disimpan di dalam jaringan tubuh sehingga berat badan bertambah¹¹ Pemberian formula 100 terhadap perubahan berat badan balita gizi kurang yang dirawat di rumah sakit menunjukkan hasil bahwa kontribusi zat gizi dari formula cukup tinggi bila dibandingkan makanan lain serta didapatkan perubahan berat badan yang signifikan dengan diberikan formula. Hal ini disebabkan makanan formula baik formula 75 maupun formula 100 lebih mudah diterima subjek dan lebih mudah diserap tubuh12. Berikut ini tabel 11 distribusi balita berdasarkan status gizi awal program PMT dan Akhir program PMT, Tabel 11 Status Gizi Balita Pra dan Post PMT Status Gizi Pra PMT Post PMT P n % n % Uji Wicoxon Sign Rank Test Sangat Kurus 1 4 0 0 p 0.000 Kurus 24 96 6 24 Normal 0 0 19 76 Jumlah 25 100 25 100 Ada peningkatan status gizi balita berdasar BB/TB. Dari uji statistik wilcoxon sign rank test didapatkan hasil p=0.000 berarti ada perubahan signifikan antara status gizi balita pada saat awal pemberian PMT dan status gizi pada akhir PMT. Penyakit Penyerta Menurut Depkes RI, 2009, makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Berikut ini tabel distribusi subjek penelitian berdasar penyakit yang diderita pada saat awal dan kondisi akhir penelitian : Tabel 12. Distribusi balita menurut penyakit penyerta Penyakit penyerta Pra PMT Post PMT n % n % PKTB (TBC anak) 12 48 7 28 down syndrom 1 4 1 4 tanpa penyerta 12 48 17 68 Jumlah 25 100 25 100 Tabel 12 menunjukkan bahwa 52% balita subjek penelitian memiliki penyakit penyerta pada awal peneltian dengan penyakit yang diderita adalah PKTB atau TBC anak dan down syndrom. Uji korelasi pada kejadian penyakit penyerta terhadap perubahan berat badan pada penelitian ini adalah sebagai berikut Tabel 13 Uji korelasi Penyakit Penyerta Pada Perubahan Berat Balita Uji korelasi Nilai p Spearman rank 0.05 Penyakit penyerta awal 0.347 Penyakit penyerta akhir 0.149 Kedua variabel memang belum ada nilai signifikansi (p<0.05). Pada saat awal penelitian, nilai p masih jauh dari batas 0.05, sedangkan pada akhir penelitian, nilai p mulai menurun sehingga mendekati 0.05. Hal ini dapat diartikan pada saat akhir penelitian ada beberapa anak yang belum sembuh penyakit tetapi berat badan sudah meningkat. Penyakit pada balita, khususnya pada penyakit infeksi belum dapat ditangani dalam waktu singkat. Pengaruh Asupan Energi Protein Terhadap Perubahan Berat Badan Hasil uji pengaruh asupan energi dan protein terhadap perubahan berat badan balita dapat dilihat pada tabel 14 Dari hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada korelasi yang signifikan antara asupan energi dan protein terhadap perubahan berat badan pada tiap minggu (p=0.091 sampai dengan 1.000). Akan tetapi korelasi terjadi antara asupan energi dan protein terhadap perubahan berat badan kumulatif minggu ke 12 (p < 0.05). Nilai signifikan yang terjadi setelah 90 hari menunjukkan bahwa memang asupan dari makanan tambahan memerlukan kurun waktu tertentu untuk dapat membawa perubahan berat badan secara bermakna. Tabel 14 Uji Korelasi Asupan Energi Dan Protein Terhadap Perubahan Berat Badan Per Minggu No Minggu Ke nilai p Asupan Energi Nilai p Asupan Protein 1 1 0.188 0.347 2 2 0.786 0.662 3 3 0.929 0.548 4 4 0.612 0.932 5 5 0.249 0.618 6 6 1.000 0.476 7 7 0.828 0.863 8 8 0.542 0.328 9 9 0.306 0.306 10 10 0.121 0.121 11 11 0.091 0.091 12 12 0.091 0.022* Akhir (setelah 12 minggu) 0.004* 0.000* Asupan non PMT 0.003* 0.030* *signifikan Demikian halnya dengan hasil uji statistik untuk asupan non PMT menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara asupan energi dan protein terhadap perubahan berat badan (p <0.05). Dari data asupan non PMT memang asupan protein cenderung lebih baik persentasenya dan berlebih. Hasil yang signifikan pada protein dengan asupan berlebih ini dapat juga ada pengaruh pada adanya kejadian penyakit penyerta pada balita sasaran. Protein selain digunakan untuk pertumbuhan juga digunakan untuk perbaikan jaringan yang rusak akibat penyakit infeksi. Guna protein dalam di dalam tubuh adalah mambangun sel jaringan tubuh, pembuat ASI, pembuat butir-butir darah merah, menjaga keseimbangan asam basa tubuh, pemberi kalori serta mengganti sel-sel tubuh yang rusak atau aus karena usia maupun penyakit13 Kesimpulan 1. Rata-rata asupan energi dari PMT adalah 337,4 Kkal (80,01% dari PMT yang disajikan) dan protein 12,74 gram (80,61% dari PMT yang disajikan). 2. Kontribusi energi dari PMT sebesar 33,76% dari AKG untuk anak usia 1-3 tahun dan 21,76% dari AKG untuk anak usia 4-6 tahun. 3. Kontribusi protein dari PMT sebesar 50,96% dari AKG untuk anak usia 1-3 tahun dan 32,67% dari AKG untuk anak usia 4-6 tahun. 4. Asupan energi non PMT sebesar 1026,70 Kkal (83,36% dari AKG) dan asupan protein non PMT sebesar 30,06 gram (97,18% dari AKG). 5. Ada peningkatan yang signifikan pada berat badan balita setelah mendapat PMT selama 90 hari makan anak sebesar 8,52 ons (852 gram) 6. Tidak ada korelasi secara signifikan antara penyakit penyerta dengan perubahan berat badan. 7. Ada pengaruh signifikan asupan energi dan protein PMT terhadap perubahan berat badan balita. 8. Ada pengaruh signifikan asupan energi dan protein makanan non-PMT terhadap perubahan berat badan balita. Saran 1. Puskesmas Sedayu II dapat melanjutkan pemberian makanan tambahan dengan formula 100 sebagai alternatif bahan selain bahan makanan lain selama minimal 90 hari. 2. Orang tua balita agar memberikan makanan yang bervariasi dan telaten memberikan makanan kepada anak. 3. Dinas Kesehatan supaya melestarikan program pemberian makanan tambahan dengan alternatif lokasi Pos Pemulihan Gizi 4. Peneliti lain bisa meneliti untuk faktor – faktor lain yang mempengaruhi. PUSTAKA 1. Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 2010. Peta Situasi Gizi Provinsi DIY Tahun 2009. Yogyakarta: Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 2. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. 2011. Profil Kesehatan 2011. Bantul : Dinas kesehatan Kabupaten Bantul 3. Puskesmas Sedayu II. 2012. Profil Puskesmas Sedayu II 2012. Bantul : Puskesmas Sedayu II 4. Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 2010. Pedoman Pemberian Makanan Tambahan untuk Balita. Yogyakarta: Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 5. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak. 2011. Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan bagi Balita Gizi Kurang (Bantuan Operasional Kesehatan). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 6. Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar Konsep dasar Perawatan Anak. Jakarta : EGC. 7. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak. 2011. Pedoman Pelayanan anak gizi buruk . Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 8. Uripi, Vera. 2004. Menu Sehat untuk Balita. Jakarta: Puspa Warna. 9. Wiryo, Hananto. 2002. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil, dan Menyusui dengan Bahan Makanan Lokal. Jakarta: Sagung Seto 10. Hernawati, Ina, dkk. 2010. Pedoman Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 11. Basuni, Abas. 2002. Pemantauan Status Gizi dengan Antropometri. Jakarta: Persagi 12. Martati, Endah. 2010. Hasil Penelitian. Hubungan Pemberian Formula dengan Perubahan Berat Badan Pasien Gizi Kurang dan Gizi Buruk Di Bangsal Anggrek RS Panembahan Senopati, Bantul. Yogyakarta: Politeknik Kesehatan Yogyakarta 13. Moehji, Sjahmien. 2009. Ilmu Gizi, Pengetahuan Ilmu Gizi. Jakarta : PPS

Pelayanan Dinas Kesehatan
  1. Pelayanan Permintaan Data
  2. Pelayanan Perijinan dan Rekomendasi
  3. Pelayanan Permintaan TIM PPPK
  4. Pelayanan Fogging Focus Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue
  5. Pelayanan Praktek Kerja Lapangan dan Mitra Eksternal
  6. Pelayanan Pemeriksaan Kualitas Air Bersih dan Air Minum dalam rangka Pengawasan Kualitas Air di Kabupaten Bantul
  7. Pelayanan Respon Cepat terhadap Pelaporan Dugaan Kejadian Luar Biasa oleh Masyarakat