Berita

WASPADA LEPTOSPIROSIS !!!!!!

Rabu Legi, 26 Februari 2014 17:01 WIB 4199

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan spectrum penyakit yang luas dan dapat menyebabkan kematian. Bakteri Leptospira ditemukan dalam air seni dan sel-sel hewan yang terkena Leptospira. Sedangkan definisi penyakit zoonosa (zoonosis) adalah penyakit yang secara alami dapat dipindahkan dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya. Berbagai binatang menyusui bisa mengidap kuman leptospira antara lain tikus, anjing, kambing, sapi, babi, kuda,kucing dan domba. Binatang yang terkena mungkin sama sekali tidak memiliki gejala atautampak sehat wal afiat. Bakteri Leptospira memasuki tubuh manusia biasanya melewati luka atau lecet kulit. Kadang-kadang pula melalui selaput di dalam mulut, hidung dan mata. Penyembuhan penderita leptospirosis bisa memakan waktu yang lama. Ada yang mengalami sakit mirip kelelahan menahun selama berbulan-bulan. Ada pula yang terus mengalami sakit kepala atau perasaan tertekan. Ada kalanya bakteri ini terus berada di dalam mata dan menyebabkan bengkak menahun. Angka kematian leptospirosis ini tergolong cukup tinggi. Di Indonesia Mencapai 16,45%, bahkan untuk usia di atas 50 tahun mencapai 56%. Gejala dini leptospirosis umumnya adalah demam, sakit kepala berat,nyeri otot, gerah, muntah dan mata merah. Aneka gejala ini bisa menyerupai gejala penyakit lain seperti flu, sehingga menyulitkan penegakan diagnosis.Bahkan ada penderita yang tidak mengalami semua gejala tersebut. Dalam penentuan kasus leptospirosis pada saat ini menggunakan criteria WHO modified. Ada tiga criteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan kasus leptospirosis, yaitu : 1. Kasus Suspek Adalah kasus dengan demam akut dengan atau tanpa sakit kepala disertai : a. Nyeri otot b. Lemah (Malaise dengan atau tanpa, c. Conjunctival suffusion (mata merah tanpa eksudat) dan d. Ada riwayat terpapar lingkungan yang terkontaminasi atau aktifitas yang merupakan factor resiko leptospirosis dalam 2 minggu sebelumnya antara lain : 1) Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman Leptospira/urine tikus saat terjadi banjir 2) Kontak dengan sungai, danau dalam aktifitas mencuci, mandi berkaitan dengan pekerjaan seperti tukang perahu, rakit bamboo dll 3) Kontak di persawahan atau perkebunan berkaitan dengan pekerjaan sebagai petani/pekerja perkebunan yang tidak menggunakan alas kaki. 4) Kontak erat dengan binatang lain seperti babi, kambing, anjing yang dinyatakan secara laboratorium terinfeksi Leptospira. 5) Terpapar seperti menyentuh hewan mati, kontak dengan cairan infeksius saat hewan berkemih, menyentuh bahan lain seperti placenta, cairan amnion, menangani ternak seperti memerah susu, menolong hewan melahirkan, dll 6) Memegang atau menangani specimen hewan/manusia yang diduga terinfeksi Leptospira dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya. 7) Pekerjaan yang berkaitan dengan kontak dengan sumber infeksi , seperti dokter hewan, dokter, perawat, pekerja potong hewan, pekerja petshop, petani, pekerja perkebunan, petugas kebersihan di rumah sakit, pembersih selokan, pekerja tambang, pekerja tambak udang/ikan air tawar, tentara, pemburu, tim penyelamat lingkungan(SAR) 8) Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan hobby dan olah raga seperti pendaki gunung, trekking hutan, memancing, berenang, arung jeram, trilomba juang (triathlon). 2. Kasus Probable a. Kasus suspek dengan minimal 2 gejala/tanda klinis : 1) Nyeri betis 2) Ikterus 3) Oliguria/anuria 4) Manifestasi perdarahan 5) Sesak nafas 6) Aritmia jantung 7) Batuk dengan atau tanpa hemoptisis 8) Ruam kulit b. Kasus suspek dengan RDT (Rapid Diagnostic Test) positif atau c. Kasus suspek dengan 3 dari gambaran laboratorium di bawah ini : 1) Trombositopenia<100.000 sel/mm 2) Lekositosis dengan neutropilia > 80% 3) Kenaikan bilirubin total >2gr%, atau amylase atau CPK 4) Pemeriksaan urine proteinuria dan/atau hematuria 3. Kasus Konfirmasi Kasus suspek atau probable disertai salah satu dari berikut ini : a. Isolasi bakteri Leptospira dari specimen klinik b. PCR positif c. Sero konversi MAT dari negative menjadi positif atau adanya kenaikan titer 4 x dari pemeriksaan awal. d. Titer MAT 320 (400) atau lebih pada pemeriksaan satu sampel. Kegiatan pencegahan terhadap penyakit leptospirosis dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : 1. Yang pekerjaannya berhubungan dengan binatang : a. Tutuplah setiap luka/lecet/kutu air dengan pembalut yang kedapair b. Gunakan pelindung, misalnya sarung tangan, pelindung mata, jubah kain dan sepatu bila menangani binatang yang mungkin terkena Leptospira, terutama jika ada kemungkinan menyentuh air seninya. c. Pakailah sarung tangan jika menyentuh ari-ari hewan, janinnya yang mati di dalam maupun digugurkan atau menyentuh dagingnya. d. Mandilah sesudah bekerja dan cucilah dengan sabun serta keringkan tangan setelah bersentuhan dengan apapun yang mungkin terkena Leptospira. e. Jangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin terkena leptospirs. Cuci dan keringkan tangan terlebih dahulu. f. Ikutilah anjuran dokter hewan ketika memberivaksin pada hewan. 2. Untuk yang lain : a. Hindari berenang didalam air yang mungkin dicemari air seni binatang b. Tutuplah luka dan lecet dengan balutan kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan air tanah, lumpur atau air yang mungkin dicemari air kencing binatang. c. Pakailah sepatu apabila keluar rumah, terutama jika tanahnya basah atau berlumpur. d. Pakailah sarung tangan bila berkebun e. Halaulah binatang pengerat/tikus dengan cara membersihkan dan menjauhkan sampah dari rumah f. Jangan member anjing/kucing jeroan mentah g. Cuci tangan dengan sabun karena kuman Leptospira cepat mati oleh sabun. (Seksi Surveilans)

Pelayanan Dinas Kesehatan
  1. Pelayanan Permintaan Data
  2. Pelayanan Perijinan dan Rekomendasi
  3. Pelayanan Permintaan TIM PPPK
  4. Pelayanan Fogging Focus Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue
  5. Pelayanan Praktek Kerja Lapangan dan Mitra Eksternal
  6. Pelayanan Pemeriksaan Kualitas Air Bersih dan Air Minum dalam rangka Pengawasan Kualitas Air di Kabupaten Bantul
  7. Pelayanan Respon Cepat terhadap Pelaporan Dugaan Kejadian Luar Biasa oleh Masyarakat