Berita

PENINGKATAN KAPASITAS PETUGAS DALAM SKRINING ANEMIA

Senin Wage, 31 Maret 2014 13:44 WIB 4838

PENINGKATAN KAPASITAS PETUGAS DALAM SKRINING ANEMIA Aset paling berharga milik bangsa Indonesia adalah sumber daya manusia yang besar. Dengan populasi sebesar 237 juta jiwa, bangsa Indonesia seharusnya menatap masa depan dengan sangat optimis, khususnya bila seluruh warga Negara, terutama generasi mudanya atau remaja telah menjadi Manusia Indonesia Prima, antara lain ditandai dengan sehat, cerdas, dan produktif. Warga yang sehat ditunjukkan antara lain oleh daya tahan tubuh yang kuat, tidak sering sakit, dan mampu bergaul di masyarakat sesuai norma social yang dianut. Cerdas ditunjukkan dengan kemampuan menyerap ilmu pengetahuan secara baik dan mampu menerapkannya untuk keperlua hidup. Produktif adalah kemampuan bekerja secara baik untuk menghasilkan barang atau jasa yang bernilai ekonomis guna mencukupi kebutuhan hidup. Untuk mewujudkan warga yang sehat, cerdas, dan produktif diperlukan status gizi yang optimal, dengan cara melakukan perbaikan gizi secara terus menerus melalui berbagai pendekatan yang semakin inovatif. Kendala yang dihadapi adalah remaja sangat beresiko menderita anemia khususnya kurang zat besi. Diperkirakan 25% remaja Indonesia mengalami anemia. Meski tidak menular namun anemia sangat berbahaya karena bisa mempengaruhi derajat kesehatan calon bayinya kelak. “Bila sejak remaja anemia, saat hamil dan melahirkan bayinya juga akan ikut anemia. Padahal zat besi sangat penting untuk perkembangan otak. Akibatnya akan lahir bayi-bayi denga kecerdasan di bawah rata-rata” papar dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), dalam sebuah seminar mengenai kesehatan remaja di Jakarta. Anemia terjadi bila jumlah sel darah merah berkurang. Dengan berkurangnya hemoglobin atau sel darah merah tadi, tentu kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh berkurang, akibatnya tubuh akan menjadi cepat lelah dan lemas karena suplai oksigennya kurang. Anemia defisiensi besi dapat terjadi karena sejak bayi sudah anemia. Infeksi cacing tambang, kurangnya asupan zat besi karena makanan yang kurang mengandung protein hewani, serta proses menstruasi pada remaja putri. “ Anemia harus dihilangkan supaya tidak terus-menerus menjadi lingkaran setan” kata Soedjatmiko. Selain pemberian tablet zat besi, orang yang anemia dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi zat besi seperti daging. Pada anemia yang lebih berat, tindakan yang diambil bisa berupa transfuse darah atau pemberian obat yang dapat merangsang produksi sel darah merah. Dalam hal perbaikan gizi, sejauh ini bangsa Indonesia telah meraih sejumlah kemajuan, di Kabupaten Bantul berdasarkan hasil PSG (Pemantauan Status Gizi) tahun 2013 prevalensi anak balita gizi kurang sebesar 9,7%, balita pendek 15,73% dan balita Kurus 4,79%, serta balita gizi lebih 3,31%. Selain masalah tersebut, masih ada masalah gizi dan tantangan yang harus dihadapi secara serius, antara lain masalah anemia. Trend prevalensi anemia ibu hamil DIY dari tahun 2010 hingga 2012 sebesar 20,95%; 18,9%; 17,35% cenderung menurun di bahwa target nasional 20%. Sedangkan di kabupaten Bantul prevalensi anemia masih tinggi yaitu 25,7% tahun 2010, tahun 2011 sebesar 25,6%, dan tahun 2012 sebesar 28,67%. Data terakhir tahun 2013 angka anemia sebesar 27,67%. Tantangan yang besar untuk memperbaiki gizi masyarakat Indonesia umumnya, dan masyarakat Bantul khususnya menuntut penanganan yang lebih inovatif sekaligus terpadu. Penanganan yang inovatif perlu didukung dengan tindakan nyata, seperti penanganan anemia pada remaja dan ibu hamil harus didukung dengan kepastian data yang akurat. Yang tidak kalah pentingnya yaitu deteksi dini terhadap anemia. Dengan kemampuan mengenali, mengidentifikasi terjadinya anemia pada diri seseorang, maka akan lebih mudah penanganan secara dini. Sehingga akibat yang lebih berat karena anemia bisa dicegah secara baik. Pada akhirnya akan menjadi kebiasaan dalam mengenali masalah kesehatan dan mampu mencegah sedini mungkin. Dalam mengupayakan kondisi yang demikian, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul berusaha melakukan upaya penanggulangan anemia melalui Peningkatan Kapasitas Petugas Dalam Skrining Anemia yakni dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan siswa di SMA/SMK/MAN se Kabupaten Bantul serta TP UKS Kecamatan dan lintas program dan lintas terkait di Kabupaten Bantul. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa yang ditunjuk sebagai Kader Kesehatan Remaja (KKR) di sekolah serta petugas di lintas sektor untuk mengenali secara dini tanda-tanda anemia, bahaya anemia dan cara mencegah supaya tidak sampai terjadi anemia. Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Aula Komplek II Kantor Pemda Bantul tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang diwakili oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul dr. T. Bintarta Heru Santosa, M.Kes. menghadirkan Pembicara dari FK UGM DR. Toto Sudargo, SKM, M.Kes, Pembicara dari Dinas Kesehatan Kab. Bantul yaitu dr. Budi Nur Rokhmah dan Bpk. Guppianto Susilo, SE, MM. Rencana tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah pelaksanaan skrining KKR kepada siswi putri SMA/SMK/MAN terhadap gejala anemia yang ditemukan, selanjutnya dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan Hb dan jika mengalami anemia maka diberikan tablet tambah darah (TTD) selama 4 bulan. Sebagai pendamping menelan obat (PMO) adalah KKR dan hasil pemantauan tertulis pada Kartu Menuju Sehat (KMS) PMO. Evaluasi terhadap intervensi tersebut dengan pemeriksaan Hb ulang setelah pemberian selama 4 bulan.