Berita

PNEUMONIA: THE FORGOTTEN KILLERS OF CHILDREN

Kamis Kliwon, 5 Juni 2014 10:07 WIB 3323

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40%-60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15%-30% kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA. Salah satu penyakit ISPA yang menjadi target program penanggulangan ISPA adalah pneumonia. Pneumonia adalah pembunuh utama balita di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lainnya seperti AIDS, Malaria, Campak. Di dunia setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta balita meninggal karena pneumonia (1 balita / 15 detik) dari 9 juta total kematian balita. Diantara 5 kematian balita, 1 diantaranya meninggal karena pneumonia. "Di Negara berkembang (termasuk Indonesia), 60% kasus pneumonia disebabkan oleh bakteri, sedangkan di Negara maju disebabkan oleh virus" terang dr. Anang Gatot selaku pemegang program pengendalian P2 ISPA Dinas Kesehatan DIY. WHO memperkirakan kejadian (insiden) pneumonia di negara dengan Angka Kematian Bayi di atas 40 per 1.000 kelahiran hidup adalah 15-20% pertahun pada golongan balita. Program nasional penanggulangan ISPA menetapkan angka 10% balita sebagai target penemuan penderita pneumonia balita pertahun. Pelaksanaan Progaram Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Program P2 ISPA) adalah bagian dari pembangunan kesehatan dan merupakan upaya yang mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia serta merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam menentukan masalah ISPA dan pnemonia pada balita di Indonesia adalah masih terbatasnya data yang sahih, dapat dipercaya dan mutakhir tentang penyakit ini. Hal ini disebabkan luas dan kompleksnya masalah ISPA yang merupakan kelompok penyakit dan beragamnya masyarakat dan geografi Indonesia. Disamping itu program P2 ISPA adalah program yang relatif baru. Secara umum diketahui bahwa penyakit ISPA dan pnemonia di kalangan balita masih merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia. Dengan angka insiden pneumonia sebesar 10% balita, maka perkiraan penderita pneumonia di DIY sebesar 212.306 balita. Angka penemuan kasus pneumonia ditargetkan sebesar 90% (tahun 2013). Evaluasi pada tahun 2013 baru tercapai 21,4% padahal target tahun 2014 sebesar 100%. Ada beberapa penyebab rendahnya angka penemuan pneumonia diantaranya kurangnya pemahaman pengelola program ISPA di unit pelayanan kesehatan serta lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan program penanggulangan penyakit ISPA. Oleh karena itu sangat diperlukan sosialisasi program pengendalian ISPA (pneumonia) kepada petugas puskesmas. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan antara lain Update Knowledge ISPA yang dilaksanakan Seksi P2 Dinkes DIY pada hari Senin tanggal 19 Mei 2014 di Hotel UC UGM. Narasumber dr. Amalia Setyati, Sp. A (K) pada pertemuan tersebut memaparkan Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali per tahun. Ini berarti seorang balita rata – rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun.Sebagai kelompok penyakit ISPA juga merupakan salah atu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di puskesmas dan 15% - 30% kunjungan di bagian raat jalan dan rawat inap rumah sait di sebabkan oleh ISPA. Upaya penurunan angka kematian pnemonia pada balita dilakukan dengan melaksanakan kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita. Menurut perkiraan WHO tatalaksana sandard pada penderita pnemonia di sarana kesehatan tingkat pertama dan di sarana kesehatan rujukan dapat mencegah kemataian balita sebesar 60% - 80%.Dalam pada itu telah dihitung dengan rumus yang dikembangkan WHO, bahwa untuk mencapai penurunan sepertiga angka kematian balita akibat pnemonia di Indonesia maka cakupan tatalaksana standard pada penderita pnemonia balita minimal 50%."Penemuan pneumonia merupakan salah satu indikator SPM, sehingga angka cakupannya perlu ditingkatkan" tambahnya. (agp 2.0