Berita

Hati Hati Berikan Madu Pada Bayi

Kamis Legi, 26 Juni 2014 09:21 WIB 3226

foto

Madu, siapa yang tak mengenal madu? Ya, Madu adalah cairan yang menyerupai sirup, madu lebih kental dan berasa manis, dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nektar bunga. Madu diketahui mengandung nutrisi-nutrisi yang baik dikonsumsi manusia serta menyehatkan. Madu juga diketahui memiliki khasiat pengobatan penyakit diabetes, batuk, sakit tenggorokan, dll.

Melihat fungsinya, wajar jika banyak yang senang mengkonsumsi madu. Tak terkecuali orang tua, juga mengupayakan agar anaknya mau mengkonsumsi madu. Alasannya pada umumnya adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan pada anak untuk mengoptimalkan tumbuh kembang.

Memang alasan yang cukup logis. Tapi anda harus berhati-hati jika memberikan madu pada anak anda, terutama jika anak anda masih bayi berusia kurang dari 1 tahun. Bahkan beberapa artikel-artikel kesehatan dan beberapa kalangan medis melarang untuk memberikan madu pada bayi kurang dari 1 tahun. Mengapa? Berikut jawabannya

Robert Koch Institut Berlin dan Oesterreichische Gesellschaft für Ernährung menyarankan agar bayi (0-12 bl) tidak diberikan madu dalam makanan yang dikonsumsinya. Alasan yang mereka kemukakan adalah kemungkinan munculnya penyakit Saeuglingsbotulismus (waduh ndak tau nih istilah kedokteran yang benar :D ) yang timbul melalui kerja dari Bakteri Clostridium botulinum. Penyakit di atas biasanya jarang terdiagnosa, namun dapat menimbulkan kematian pada bayi. Adapun untuk bayi diatas 1 tahun dan orang dewasa pencernaannya sudah cukup kuat. Spora ini akan mati oleh asam yang dihasilkan lambung manusia,

Memang sebenarnya bukan efek langsung madu yang tidak baik bagi tubuh tapi dikarenakan adanya kemungkinan madu terkontaminasi dengan spora C. botulinum.  Clostridium botulinum merupakan bakteri yang bisa menghasilkan spora dan biasa ditemukan di dalam tanah. Spora bakteri ini serupa dengan biji yang akan tumbuh dan berkembang biak ketika menemukan lingkungan yang tepat. Spora tersebut bisa terbawa oleh debu, udara ataupun air dan menempel di makanan.Kasus keracunan oleh bakteri ini disebut botulisme (botulism). Ada empat tipe botulisme yang dikenal :

  1. botulisme karena makanan
  2. botulisme pada bayi (infant botulism)
  3. botulisme pada luka
  4. botulisme yang belum diklasifikasikan.

Infant botulism terjadi ketika bayi/anak berusia di bawah 12 bulan mengonsumsi makanan ( sekali lagi : MAKANAN ) yang terkontaminasi oleh spora Clostridium botulinum. Usus bayi yang belum sempurna menjadi media yang baik untuk perkembangan spora tersebut, sampai menghasilkan racun yang bisa membahayakan fungsi syaraf bayi.

Gejala bayi yang terkena penyakit Infant Botulisme:

  1. Sembelit (biasanya merupakan gejala yang paling awal)
  2. Bayi terkulai, karena kelemahan otot dan kesulitan mengontrol kepala
  3. Tangisan yang lemah
  4. Rewel
  5. Ileran karena sulit menelan
  6. Kelopak mata yang sayu/seperti mengantuk
  7. Kelelahan
  8. Kesulitan menghisap saat nenen atau minum dari botol
  9. Kelumpuhan

Kasus Botulisme memang sangat jarang dijumpai dan tidak hanya dijumpai dikarenakan madu,  tapi JUGA oleh makanan kaleng dan makanan lainnya yang kurang bersih dan terkontaminasi. hanya 5% kasus yg dijumpai Botulism dikarenakan madu yang sudah tidak pure dan terkontaminasi, selebihnya tidak diketahui penyebabnya. Kebanyakan kasus Botulisme ditemui dari makanan kaleng yang tercemar. Kasus botulisme juga banyak ditemui di negara Amerika dikarenakan dari jenis tanah yang banyak mengandung spora ini.


Sebenarnya madu sendiri steril ketika masih ada di dalam sarang lebah. Proses pemanenan, ekstraksi sampai pengemasan bisa jadi merupakan saat kemungkinan terjadinya kontaminasi spora C. botulinum. Namun untuk membuat keseluruhan proses tersebut menjadi steril akan membuat harga madu menjadi lebih mahal. Padahal konsumen madu sangat luas, dan bukan hanya bayi atau anak.

Dari kasus infant botulism yang dilaporkan, sekitar setengahnya dialami oleh bayi berusia di bawah dua bulan. WHO menyarankan agar bayi hanya mengonsumsi ASI sampai dengan usia 6 bulan. Di atas 6 bulan, bayi baru bisa mulai diberi makanan tambahan karena flora usus bayi telah lebih berkembang dan mampu menghadapi kontaminasi spora Clostridium botulinum.
Peringatan dari MEDIS agar menghindari madu sampai anak usia 1 tahun  adalah untuk faktor keamanan dan keselamatan saja.

Bagaimana dengan di Indonesia ?

Kita ketahui bahwa di Indonesia kebanyakannya berkiblat pada pengobatan ala timur yang banyak menggunakan madu selain pengobatan ala Barat yaitu secara Medis. Banyak bunda2 Bee Kids yang memberikan madu kepada bayi-nya dan memang belum pernah terjadi kasus botulisme di Indonesia.

Jadi kesimpulannya :

Penyebab keracunan botulisme pada bayi bukanlah dari madunya, melainkan spora bakteri Clostridium botulinum yang menempel pada semua media seperti :  makanan,tanah, dan lingkungan tidak higienis.Pencemaran spora bakteri tersebut bisa terjadi pada makanan selain madu, terutama saat proses pengemasan dan pembuatan makanan. Juga karena faktor lingkungan dan faktor2 lainnya.

Bagaimana sebaiknya?

  1. Salah satu solusi ketika kita ingin mengambil manfaat madu tanpa khawatir akan bakteri adalah konsumsilah  madu oleh Ibunya yang sedang  menyusui sehingga bayi akan mendapatkan khasiat madu secara tidak langsung dari ASI. Bakteri penyebab botulism akan mati oleh lambung orang dewasa.
  2. Untuk berhati-hati tidak ada salahnya untuk tidak memberikan madu sebelum genap umur bayi 12 bulan. Ataupun jika ingin memberikan madu pada bayi pastikan madu yang diberikan diolah secara higienis sehingga madu tersebut aman dikonsumsi. Pilihlah Madu yang memang Pure, Asli dan berkualitas


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Madu

http://infodunia-4u.blogspot.com/2009/07/bahaya-madu-untuk-bayi.html

http://mamakinara.blogspot.com/2014/05/bahaya-memberi-madu-kepada-bayi.html

dari : Sub Bag Program