Berita

Refreshing Surveilans Epidemilogi Reaksi Cepat Bencana

Senin Kliwon, 26 Maret 2018 09:13 WIB 468

foto
Enaryaka, S.Kep Ners,MM Bagian Kesiapsiagaan BPDB DIY saat menjadi narasumber pada Selasa (20/3). Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Terletak di bagian selatan DIY, Bantul memiliki wilayah yang rentan terkena bencana alam seperti bencana dari Gempa Bumi, Banjir hingga Tsunami. Maka dari itu Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menyelenggarakan Refreshing Epidemiologi pada Senin-Selasa (20-21 Maret 2018). Kegiatan yang diiikuti oleh Dokter baik dari Puskesmas maupun RS se Kabupaten Bantul serta Staff Dinkes ini dibuka langsung oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Bantul.

“Ini adalah sebagai langkah nyata Dinas Kesehatan untuk mencegah dan mengurangi resiko dampak dari bencana baik itu terhadap kecacatan, penyebaran penyakit maupun dampak bagi kesehatan lingkungan,” ungkap dr Pramudi

dr Pram mengungkapkan karena bencana datang seringkali secara tiba-tiba maka kegiatan ini sangat penting agar petugas dapat melakukan upaya tanggap darurat bencana dan penilaian kesehatan secara cepat pada saat terjadi bencana di wilayah kerjanya.

Dalam tanggap bencana menurut Enaryaka, S.Kep Ners,MM Bagian Kesiapsiagaan BPDB DIY saat menjadi narasumber, Selasa (20/3) dilakukan mengikuti siklus kebencanaan, yaitu pada pra bencana saat bencana dan pasca bencana, oleh karena itu perlunya koordinasi, kolaborasi kapasitas dan integrasi sistem.

Hal senada juga diungkapkan oleh drg. Tri Wahyuni, M.Kes Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Bencana (Yanruben) bahwa penanganan perlu kolaborasi dengan sector lain maka dari itu diperlukan pembagian klaster agar tidak terjadi overlapping atau tidak ditanganinya sama sekali terhadap korban bencana sehingga memunculkan resiko kedua dari bencana.

Untuk klaster kesehatan sendiri yang digawangi oleh Dinas Kesehatan telah dilakukan pembentukan Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas Kesehatan dan Puskesmas. TRC Bencana terdiri dari RHA (Rapid Health Asessment) dan pelayanan di pos kesehatan.

“Ini adalah satu kesatuan dimana tim RHA memberikan penilaian secara cepat dampak dari bencana sehingga akan menjadi dasar bagi upaya kesehatan yang tepat dalam menentukan penanggulangan selanjutnya bagi petugas pelayanan di Pos Kesehatan maupun tim lain,” ujar drg. Tri Wahyuni.

dr Abednego Dani Nugroho juga menjelaskan bahwa penilaian cepat masalah kesehatan (RHA) merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan informasi subjektid dan objektif untuk menulai permasalahan kesehatan yang timbul dan mungkin timbul berkaitan dengan terjadinya bencana serta mengidentifikasi kebutuhan dasar penduduk yang menjadi korban dan memerlukan  ketanggapdaruratan segera. Kegiatan ini dilakukan secara cepat karena harus dilaksanakan dalam waktu yang terbatas selama atau segera setelah suatu kedaruratan.

“Tim RHA dalam melakukan assesmen harus memegang prinsip cepat, sederhana dan tepat,” ungkap Agus Staf Surveilans dan menrupakan narasumber dalam kegitan ini.

Ia mengungkapkan Ketugasan Tim RHA sepertimenyusun perencanaan kesgiatan assessment, mengumpulkan data primer dan/atau sekunder pada formulir RHA, membuat pemetaan lokasi kejadian bencana, melakukan komunikasi dengan baik.

“Kami telah membuat formulir RHA dengan sederhana namun tetap mempertahankan ketepatan agar data yang dihasilkan tepat,” pungkas Agus. (Dinkes/YA)