Berita

Monev Layanan Psikolog di 8 Puskesmas

Selasa Pahing, 9 Oktober 2018 08:12 WIB 204

foto
Pemaparan Monev Psikolog di 8 Puskesmas oleh Dyah Pangesti Utami, SKM, M.SE Kepala Seksi Yankedsatrad Dinkes di Ruang Rapat Afiat pada Kamis, 4 Oktober 2018. Dinkes/YA

Bantul, Dinkes-Tingginya prevalensi penderita gangguan jiwa yang tidak diimbangi dengan kapasitas layanan kesehatan jiwa akan menimbulkan tingginya treatment gap. Salah satu strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul adalah dengan memasukan layanan psikolog ke pelayanan Puskesmas. Salah satu strategi yang dipakai untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas ialah dengan menempatkan psikolog di Puskesmas.

"Program ini telah dirintis Pemerintah KabupatenBantul sejak Tahun 2017, dimana ada 8 Puskesmas di Bantul yang menyediakan layanan psikolog," ungkap Dyah Pangesti Utami, SKM, M.SE Kepala Seksi Yankedsatrad Dinkes. Dyah mengungkapkan bahwa Kabupaten Bantul terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas keberadaan pelayanan psikolog ini sehingga kedepanya disetiap puskesmas di Kabupaten Bantul terdapat layanan psikologinya.

Pada kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Jumat lalu (5/10), Dyah mengungkapkan bahwa keberhasilan pelayanan psikologis di Puskesmas sangat ditentukan oleh jalinan kerjasama atau kolaborasi yang baik antara psikolog dengan petugas kesehatan lainnya atau programer lainnya. Agar daya ungkit terhadap penanganan masalah gangguan jiwa lebih besar lagi.

Maka dari itu guna meningkatkan kemampuan berkolaborasi dengan profesi medis dan para medis di Puskesmas, psikolog dituntut untuk memiliki komitmen berkolaborasi dengan tim kesehatan dan mampu beradaptasi di dunia medis serta membangun pola pikir kolaboratif agar menghemat waktu dan tenaga dalam melayani pasien. Selain itu, psikolog dituntut pula untuk menyesuaikan proses assessment dan intervensi dengan kebutuhan di Puskesmas serta mampu berkomunikasi baik verbal maupun tertulis secara efektif dan efisien.

Integrasi layanan psikolog dalam Puskesmas di Kabupaten Bantul memang baru saja dimulai. Tentu saja, masih banyak pernak-pernik yang harus dipikirkan bersama. Meski begitu, meyakini langkah-langkah awal ini jika berhasil dikembangkan akan berdampak pada pelayanan psikologi yang memperkuat layanan kesehatan jiwa di Kabupaten Bantul.

"Jika integrasi ini menjadi sistem yang dapat diterapkan meluas, maka akan menjadi solusi penanganan kesehatan jiwa di Kabupaten Bantul," tuturnya. Dinkes/YA