Berita

RUANG LAKTASI DI KANTOR............ WHY NOT ????

Selasa Pahing, 2 Juli 2013 14:45 WIB 4342

a. Pasal 10 Konvensi ILO (International Labour Organization) 183 tahun 2000 yang disebut Konvensi Perlindungan Maternitas tahun 2000 : 1. Perempuan harus diberi hak istirahat harian atau pengurangan Kembali beraktivitas di kantor setelah libur panjang selama kurang lebih 3 bulan dalam rangka persiapan kelahiran bayinya dan selanjutnya memberi kesempatan bagi ibu dan anak membangun kedekatan fisik dan emosional seutuhnya, tidak menghalangi niat para ibu bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif untuk buah hati tercintanya. Dan sebenarnya kantor juga tidak menghalangi niat para ibu menyusui untuk memberikan ASI ekslusif pada bayinya. Aktivitas harian ibu menyusui yang bekerja relatif sama. Setiap pagi, selain membawa tas kerja, mereka juga membawa cooler bag lengkap dengan “perlengkapan tempur”-nya yaitu pemompa ASI, beberapa botol kaca ASIP (ASI perah), dan ice pack/gel pack. Setelah absen, mereka langsung menuju kulkas untuk meletakkan ice pack/gel pack. Setiap beberapa jam, mereka akan menyisihkan waktu untuk memompa ASI untuk kemudian disimpan dalam botol-botol kaca yang sore harinya akan dibawa pulang. Itulah gunanya cooler bag dan ice pack/gel pack. Agar beberapa botol ASI perah tadi tetap dalam kondisi baik selama perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Mengenai kesempatan memompa ASI, kantor tidak pernah menghalangi para pekerja wanitanya yang ingin memompa ASI, meskipun kegiatan itu dilakukan beberapa kali sehari di tengah-tengah jam kerja. Permasalahannya adalah kantor yang tidak menyediakan ruang laktasi yaitu ruangan khusus untuk para ibu menyusui untuk memerah ASI dan menyimpannya untuk selanjutnya dibawa pulang. Jadi pertanyaannya, dimanakah mereka memompa ASI-nya? Ada yang memanfaatkan ruangan kecil semacam gudang di kantor, ada juga yang menjadikan toilet sebagai ruang laktasinya karena pada dasarnya tidak memiliki alternatif selain toilet,atau kalau lagi beruntung punya atasan yang pengertian bisa pinjam ruangan atasannya, karena di kantornya sama sekali tidak ada ruangan yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang laktasi darurat. Sungguh memprihatinkan. Ketiadaan ruang laktasi di kantor atau dan belum adanya wacana di kantor terkait dengan penyediaan ruang tersebut memang membawa permasalahan tersendiri bagi para ibu bekerja yang masih menyusui. Padahal Kementerian Kesehatan mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk segera menyediakan ruang laktasi bagi ibu menyusui. Hak-hak ibu bekerja untuk menyusui dilindungi oleh Undang-Undang. Beberapa peraturan yang mengatur hal tersebut antara lain: jam kerja harian untuk menyusui anaknya. 2. Berapa lama istirahat menyusui atau pengurangan jam kerja harian ini akan diberikan, banyaknya dalam sehari, lamanya tiap-tiap istirahat dan cara-cara pengurangan jam kerja harian ini diatur berdasarkan hukum dan kebiasan nasional. Istirahat dan pengurangan jam kerja harian ini harus dihitung sebagai jam kerja dan dibayar. b. Pasal 83 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan : Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. c. Pasal 128 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan : 1. Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. 2. Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. 3. Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. d. Butir 2 Pasal I Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan Nomor 48/MEN.PP/XII/2008, Nomor PER.27/MEN/XII/2008, Nomor 1177/MENKES/PB/XII/2008 tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja : Peningkatan Pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja adalah program nasional untuk tercapainya pemberian ASI ekslusif 6 (enam) bulan dan dilanjutkan pemberian ASI sampai anak berumur 2 (dua) tahun. Peraturan bersama tiga Menteri tersebut juga mengatur mengenai tugas dan tanggung jawab tiap-tiap Menteri terkait upaya melaksanakan peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja. e. PP 33 Tahun 2012 tentang ASI Eksklusif juga menjamin hak-hak ibu menyusui dan juga hak bayi dan balita mereka untuk mendapatkan ASI Eksklusif, f. PERBUP Kab. Bantul No. 82 tahun 2012 tentang ASI Eksklusif tersebut juga memuat ketentuan tentang penyelenggaraan fasilitas khusus untuk menyusui dan atau memerah ASI di tempat kerja. KABAR GEMBIRA baru-baru ini Dinas Kesehatan Kab. Bantul, telah menyediakan RUANG LAKTASI untuk kegiatan ibu menyusui yang bekerja di lingkungan Komplek PEMDA II, yang sudah dilaunching oleh Asisten Sekretaris Daerah III Drs. Mardi pada tanggal 26 Juni 2013. “Dengan ketersediaan ruang laktasi yang nyaman dengan fasilitas memadai, para ibu bekerja yang masih menyusui, dapat menikmati haknya dengan melakukan rutinitas bekerjanya dengan nyaman, tanpa meninggalkan profesionalitas kerja” begitu ungkap beliau Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bantul drg. Maya Sintowati Pandji,MM. Harapan ke depannya ketersediaan ruang laktasi ini diikuti oleh kantor-kantor yang lain baik negeri maupun swasta, sehingga dalam lingkup lebih luas, dapat meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif dengan makin banyaknya bayi yang mengkonsumsi ASI akan tercipta generasi bangsa yang sehat dan cerdas. Semoga…

Pelayanan Dinas Kesehatan
  1. Pelayanan Permintaan Data
  2. Pelayanan Perijinan dan Rekomendasi
  3. Pelayanan Permintaan TIM PPPK
  4. Pelayanan Fogging Focus Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue
  5. Pelayanan Praktek Kerja Lapangan dan Mitra Eksternal
  6. Pelayanan Pemeriksaan Kualitas Air Bersih dan Air Minum dalam rangka Pengawasan Kualitas Air di Kabupaten Bantul
  7. Pelayanan Respon Cepat terhadap Pelaporan Dugaan Kejadian Luar Biasa oleh Masyarakat