Berita

Dinkes Kabupaten Bantul Berkomitmen Melakukan Integrasi Pelayanan Kesehatan Konvensional Dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Senin Pon, 19 Oktober 2020 15:36 WIB 56

foto
Dra. Ninik Istitarini, Apt. MPH Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul saat memberikan sambutan pada acara “Wrokshop & FGD Pengintegrasian Pelayanan Konvensional dengan Pelayanan Kesehatan Tradsional Komplementer”, pada Kamis (8/10). Yekti A

Bantul, Dinkes-Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2010, persentase penduduk Indonesia yang pernah mengonsumsi jamu sebanyak 59,12%. Dari jumlah tersebut sekitar 95,60% yang merasakan manfaatnya. Dengan kata lain, lebih dari setengah penduduk Indonesia mengonsumsi jamu. Sesuai amanat UU 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa pelayanan tradisional masuk sebagai bahagian dari 17 pelayanan kesehatan.

"Memadukan pelayanan kesehatan yang konvensional dan tradisional di Puskesmas bukanlah perkara mudah, karena kita harus menyiapkan dari infrastruktur hingga SDM di Puskesmas" ucap Dra. Ninik Istitarini, Apt. MPH Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul saat memberikan sambutan pada acara “Wrokshop & FGD Pengintegrasian Pelayanan Konvensional dengan Pelayanan Kesehatan Tradsional Komplementer”, pada Kamis (8/10).

Integrasi pelayanan diartikan sebagai penggabungan sebagian atau seluruh aspek pengobatan tradisional yang akan memberikan manfaat atau khasiat pengobatan yang lebih baik (sebagai komplementar-alternatif) pada pelayanan kesehatan disemua tingkatan fasilitas kesehatan, termasuk aspek regulasi, pembiayaan, serta kebijakan mengenai penyelenggaraan pelayanan dan obat yang digunakan.

"Dalam rangka penyediaan layanan pengobatan tradisional di seluruh tingkatan fasilitas kesehatan kita harus mulai membangun manajemen, organisasi, melatih tenaga kesehatan, menyusun norma, standar, pedoman dan regulasi. Inilah yang memakan waktu," ungkapnya.

drg. Sapta Adisuka Mulyatno, Ph.D Kepala Bidang Yankes Dinkes Kabupaten Bantul melanjutkan, jika pelayanan kesehatan tradisional sudah dapat diintegrasikan ke seluruh puskesmas di Kabupaten Bantul, maka penegakkan diagnosa tetap harus dilakukan secara konvensional. Misalnya dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Tetapi perbedaannya, pilihan terapi yang diberikan dokter bisa beragam yakni dapat berupa konvensional saja, konvensional plus komplementer atau murni alternatif.

"Terapi dapat diberikan oleh dokter yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan tenaga kesehatan yang mendapat pelatihan khusus di bidang tradisional komplementer," ucapnya.

Kegiatan ini juga merupakan upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul melakukan sosialisasi kepada seluruh elemen di lingkungan Dinas Kesehatan dari Puskesmas hingga seksi-seksi.

“Kami istilahnya melakukan launching mini kepada Struktural di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, dengan ini berharap Puskesmas lain bisa termotivasi untuk menerapkan beberapa program kestrad,” ungkap Dyah Pangesti Utami, SKM. M.SE Kepala Seksi Yankesdastrad & Komplementer Dinkes Kabupaten Bantul.

Ia menambahkan bahwa pada acara ini juga diperkenalkan layanan ramuan tradisional berupa minum jamu yang merupakan hasil dari kegiatan pembinaan asuhan mandiri kestrad puskesmas di wilayah kerjanya .

Penulis: Yekti A
Edditor: Dyah Pangesti Utami, SKM.M.SE Kepala Seksi Yankesdastrad Dinkes Kab. Bantul


Pelayanan Dinas Kesehatan
  1. Pelayanan Permintaan Data
  2. Pelayanan Perijinan dan Rekomendasi
  3. Pelayanan Permintaan TIM PPPK
  4. Pelayanan Fogging Focus Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue
  5. Pelayanan Praktek Kerja Lapangan dan Mitra Eksternal
  6. Pelayanan Pemeriksaan Kualitas Air Bersih dan Air Minum dalam rangka Pengawasan Kualitas Air di Kabupaten Bantul
  7. Pelayanan Respon Cepat terhadap Pelaporan Dugaan Kejadian Luar Biasa oleh Masyarakat