BANTUL – Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menjadi tuan rumah penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Rencana Kontinjensi (Renkon) Kegawatdaruratan Medis. Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Kesehatan DIY ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, koordinasi, dan kesiapsiagaan seluruh elemen kesehatan di Kabupaten Bantul dalam merespon situasi krisis akibat bencana.
Acara dibuka oleh Kepala Seksi Pelayanan Kegawatdaruratan, Krisis Kesehatan, dan Kesehatan Khusus Dinkes DIY, Kudiyana, SKM., M.Sc. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya dokumen perencanaan yang matang agar respon medis saat bencana tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dalam satu sistem yang padu.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, dr. Ahmad Riyanto, memberikan pemaparan mengenai kebijakan penanganan kegawatdaruratan di wilayah Bantul. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama dalam meminimalisir fatalitas korban saat terjadi bencana.
Sinergi Lintas Sektor dan Simulasi Mendatang
Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli dari PKMK FK-KMK UGM, yakni apt. Yulian Yogadhita, M.Epid yang mengupas tuntas urgensi rencana kontinjensi, serta dr. M. Alif Seswandhana yang membimbing peserta dalam menyusun komponen teknis dokumen renkon melalui diskusi kasus.
Peserta bimtek terdiri dari berbagai unsur strategis, di antaranya:
Rumah Sakit: RSUD Panembahan Senopati, RSPAU dr. S. Hardjolukito, RSUD Saras Adyatma, RSU PKU Muhammadiyah Bantul, RSU Sedayu General Hospital, dan RSU UII.
Instansi Terkait: BPBD Bantul, PMI Bantul, dan Koordinator PSC 119 Bantul.
Relawan: Perwakilan Ambulans MU, Ambulans NU, dan Ambulans Desa.
Poin Penting Diskusi: Aktivasi Sistem Korban Masal
Dalam sesi diskusi tanya jawab yang berlangsung dinamis, muncul beberapa poin krusial yang akan dituangkan ke dalam dokumen Rencana Kontinjensi, antara lain:
Komando Lapangan: Disepakati bahwa aktivasi sistem korban masal dilakukan melalui PSC 119. Ambulans pertama yang tiba di lokasi akan bertindak sebagai komandan insiden sementara sambil melakukan kaji cepat dan triase, sebelum nantinya komando diambil alih oleh PSC saat tiba di lokasi.
Sistem Informasi Real-Time: Untuk memantau kapasitas IGD, akan dibentuk grup koordinasi khusus (WAG) yang melibatkan seluruh Penanggung Jawab IGD Puskesmas dan RS se-Bantul untuk update data secara berkala.
Komunikasi Alternatif: Menyadari risiko gangguan jaringan seluler saat bencana, penguatan komunikasi akan diarahkan melalui jalur radio (HT) dengan memanfaatkan frekuensi Pusdalops BPBD, khususnya untuk menjangkau wilayah yang minim sinyal seperti Sedayu.
Standarisasi Ambulans: Peserta menyoroti pentingnya pemetaan jenis ambulans (transport vs emergency) serta peningkatan kapasitas driver relawan melalui pelatihan PPGD Awam bersertifikat.
Pembiayaan dan Administrasi: Diskusi juga menyentuh aspek pembiayaan korban bencana/MCI, termasuk peran Jamkesda dan perlunya dokumentasi tracking pasien yang baik untuk keperluan administrasi lanjutan.
Rencana Simulasi Lapangan
Sebagai tindak lanjut dari penyusunan dokumen ini, Dinas Kesehatan berencana menggelar simulasi lapangan pada bulan Juni mendatang. Simulasi ini bertujuan untuk menguji prosedur yang telah disusun dalam dokumen Renkon, mulai dari koordinasi radio, pemetaan kapasitas RS melalui sistem online, hingga penanganan teknis di lokasi kejadian.
Dengan adanya bimbingan teknis ini, diharapkan Kabupaten Bantul memiliki panduan operasional yang konkret, sehingga saat terjadi krisis kesehatan, seluruh elemen kesehatan dan relawan dapat bergerak secara cepat, tepat, dan terukur.



